Baru 2 kali saya ke negeri Cina. Pertama 3 tahun lalu ke Xi’an dan sekarang ini Guangzhou.

Kunjungan dua-duanya mind-blowing.

Kirain di sini orang-orangnya jorok, ngeludah sembarangan, gak bisa antri, kasar dan teriak-teriak. Ternyata kotanya bersih dan rapi, gak ada orang yang sembur ludah pinggir jalan, kebanyakan tertib antri dan banyak yang sangat considerate. Pelayan di salah satu restoran selibet lidah karena bahasa Inggrisnya sangat minim untuk menjamin bahwa menu mereka hanya daging ayam ke teman saya yang berhijab sebelum ditanya ini halal atau enggak. Mungkin karena Xi’an dan Guangzhou tergolong kota besar ya. Tapi ngomong dengan teriak-teriak sih tetep.

Datang ke Cina emang berasa kayak ke dunia lain. So far, gak ada toko yang terima pembayaran Visa atau MasterCard, gak bisa Facebook, Instagram, Uber, Google termasuk Google Maps, warga lokal yang bisa Bahasa Inggris saya hitung baru ada 6 orang dan itu termasuk pegawai hotel. Untung masih terima uang tunai, secara dimana-mana cashless pake Alipay atau WeChat Pay, and thank God for VPN and Baidu Translate.

Cina adalah bukti bahwa menolak Silicon Valley bukan berarti ketinggalan teknologi. Malah WeChat lebih canggih (jauuuuhh) daripada Whatsapp. Baidu Translate bisa menerjemahkan foto huruf Cina ke dalam Bahasa Inggris yang “disempurnakan” sementara Google Translate cuma bisa terjemahan secukupnya.

Gue bahas sama teman yang juga dari Jakarta, “Jadi malu ya kalo ingat sama orang-orang yang teriak Anti-Cina. Mbok yao traveling siniii, biar tau situ ketinggalan!”

#biCHINA

/* fb group poster start */ /* fb group poster end*/