BERBURUH SIPUT NIPAH (TELESCOPIUM) YANG WAJIB DICOBA PENGUNJUNG.

Siput Nipah (Telescopium), mungkin tak semua dari kita mengenal hewan yang hidup di air payau atau atau sungai tapi tidak bagi keluarga Hamid (46), warga Tabbua Kecamatan Lau Maros justru dari hewan bercangkang itulah Hamid menggantungkan hidupnya keluarganya.

Meski bukan pekerjaan yang mudah untuk mengais dan mengumpulkan siput dari pinggiran sungai, tetapi demi menghidupi enam orang anaknya, Hamid bersama sang istri, Singara (35) yang setia menemaninya, setiap pagi harus rela mengayuh perahu menelusuri luasnya sungai Tabbua untuk memburu siput.

Dinginya udara pagi dan teriknya matahari dan bahkan guyuran hujan sekalipun tak membuat mereka menyerah. Yang terpenting, sore hari mereka pulang membawa hasil yang bisa dijual kepada agen pengepul yang akan menjemput hasil jerih payah mereka untuk menyambung hidup.

“Berangkat dari rumah biasanya pukul 6 pagi, pulangnya ya menjelang magrib gini,” kata Hamid, Minggu(2/7) sore.

Perjuangan mengarungi sungai dengan perahu dayung bukanlah satu-satunya kesusahan yang mereka hadapi. Setiba dilokasi mereka harus berendam seharian di air. Setelah masuk ke air, dengan menggunakan kedua belah tangan, pasangan suami istri itu pun lantas mulai meraba-raba keberadaan siput-siput seukuran jari telunjuk itu, hal itu pun membuat telapak tangan mereka sering tertusuk duri atau benda lain yang mengendap di bawah.

Rumitnya mencari dan mengumpulkan siput nipah yang konon kaya akan kandungan gizi itu tak berhenti disitu. Setelah siput berhasil diambil, harus terlebih dahulu dibersihkan jika sudah-benar bersih baru di masukkan ke dalam karung berukuran 50 kilogram (KG).

“Ya susah carinya, ini tangan pecah-pecah begini, untuk mengisi satu karung saja lama, namanya juga kecil-kecil siputnya, kalau pas dapat tempat yang banyak baru lumayan,” kata Hamid.

Menurut Hamid, setiap harinya paling banyak mereka hanya mampu mengumpulkan 10 karung, paling sedikit empat atau lima karung. Tergantung kondisi cuaca dan lokasi mereka mencari. Perkarungnya oleh agen pengepul dari Maros yang akan menjual siput ke Makassar dihargai Rp 30 ribu. Sepintas memang hasilnya terlihat menggiurkan, tetapi jika dibandingkan dengan resikonya tentu tidak setimpal.

“Ini lumayan 10 karung, tapi biasanya cuma empat atau lima karung, tergantung ketinggian airnya juga disungai.

Meski tak mau mengeluh, namun Hamid sangat berharap bantuan pemerintah, bantuan perahu dan mesinya. Sebab selain tak bermesin perahu yang ia miliki sudah lapuk.

/* fb group poster start */ /* fb group poster end*/