#BIBikepacker #BIVietnam #BILaos #BIThailand #BIOverland #BITouring

ANJAY! Part.2 (Hanoi – Luang Prabang – Chiang Rai)

Melanjutkan postingan sebelumnya tentang Georney motoran di Vietnam : https://www.facebook.com/groups/1468005403448997/permalink/1976856112563921/

Kali ini saya mau share tentang perjalanan darat dari Hanoi sampai Chiang Mai.
***

Jadi, ketika sampai di Hanoi, saya dan R Bimo sempat galau, apa ANJAY! mau dijual di sana atau masih mau dibawa ke Laos. Dua bulan lebih diatas motor tua, mental dan fisik kami sudah mulai letih. Kami sudah kangen pindah lokasi dengan bus, biar bisa sambil istirahat. Tujuan kami berikutnya adalah Laos : Phonsavan – Vang Vieng – Luang Prabang dan sekitarnya.. setelah itu ke Thailand utara.

Selama masa leyeh-leyeh di Hanoi, saya baca postingan Mbak Meong di grup ini tentang festival Loy Krathong, dan kami cuma punya waktu 10 harian lagi kalau mau ngejar ke Chiang Mai. Akhirnya karena berbagai pertimbangan yang berfokus ke waktu dan biaya, kami putuskan untuk menjual ANJAY! di Luang Prabang. Pertama, harga tiket bus Hanoi-Luang Prabang mahal, sekitar US$ 40/org. Kedua, sewa motor di Laos mahal. Ketiga, kami rasa ANJAY! lebih mudah kejual di Laos karena saingan yang jual lebih sedikit, agak sulit menjual motor di Hanoi dengan harga yang bagus, apalagi sekelas ANJAY!, harganya terjun bebas. Intinya soal duit sih, hehe.. kami juga skip untuk mengeksplor Laos dan memilih langsung ke Luang Prabang saja.

HANOI –LUANG PRABANG
Perjalanan kami tempuh selama 4 hari: Hanoi – Quan Son(220 km) – Viang Xai (164 km) – Muang Hiam (180 km) – Luang Prabang (310 km). Land border yang kami lewati adalah Na Meo – Nam Xoi. Untuk membawa ANJAY!, di sisi Vietnam kami harus mengisi formulir dan membayar bea cukai senilai US$ 10 (bisa juga dibayar dengan mata uang VND). Di sisi Laos, bayar US$ 4 (bisa juga dibayar dengan mata uang VND atau LAK). Border tutup setiap jam makan siang (12.00-13.30) usahakan sampai sebelum jam istirahat karena kondisi jalan di Laos jauh lebih jelek dari Vietnam, selain aspal yang bolong-bolong, kadang jalanannya hanya tanah berbatu atau kerikil, pemukiman juga lebih jarang. Pastinya tidak nyaman berkendara kalau hari sudah gelap. Untuk pemotor atau pesepeda, pastikan jangan berkemah atau menjelajah terlalu jauh dari jalan setapak, karena masih banyak bom sisa perang yang belum meledak dan tertanam di tanah (UXO/Unexploded Ordnance).

HOW TO SELL MOTORBIKE IN LAOS
Begitu sampai Luang Prabang, ANJAY! kami bawa ke bengkel dan minta diservis total, ganti beberapa spare part sampai jalannya mulus lagi dan dicuci sampai bersih. Ada beberapa forum jual beli di Facebook dimana kita bisa mengiklankan motor, tapi cara yang paling efektif untuk si ANJAY! adalah dengan cara memajang dan mengiklankan langsung di keramaian. Siang hari, ANJAY! kami parkir di samping Restoran India di Kitsalat road, menjelang sore kami pindah parkir di Night market, dalam waktu satu hari, si ANJAY! sudah punya pemilik baru. Terjual dengan harga yang sama dengan harga belinya, not bad kaaan… Jangan lupa surat keluar-masuk motor dikasih ke pembelinya ya.
Karena ANJAY! terjual sebelum kami sempat kemana-mana, kami sewa motor sehari untuk ke Tad Kuang Si. Harga sewa untuk motor matic LAK 120.000, mungkin harga segini adalah yang termahal se-Asia Tenggara.

CROSSING LAOS – THAILAND
Ada dua cara untuk menuju border Huay Xai – Chiang Khong dari Luang Prabang, pertama naik perahu selama dua hari (bermalam di Pak Beng) dan kedua naik bus sekitar 12 jam. Kami pilih sleeper bus (145.000 kip). Sampai di terminal Huay Xai sekitar pukul 7 pagi, sementara Bus tujuan Chiang Rai baru berangkat pukul 9. Daripada nunggu lama, kami putuskan untuk berangkat sendiri dan berganti-ganti kendaraan. Pertama mini van dari terminal sampai border LAK 10.000, harga tersebut kami dapat setelah nego langsung dengan supir mini van yang membawa turis dalam rombongan tur, setelah kami tanya beberapa tuk-tuk meminta ongkos sebesar THB 100/LAK 25.000 per orang, kemahalan buat kami untuk perjalanan 4 km. Urusan cap keluar imigrasi di sisi Laos lancar jaya, setelah itu di area no man’s land kita wajib naik shuttle bus ke sisi Thailand (bayar THB 25/ THB 7.000), selanjutnya songthaew dari border ke terminal bus (THB 60) dan terakhir bus lokal dari Chiang Khong ke kota Chiang Rai (THB 65).

Oh iya peraturan baru tentang land border crossing sudah berlaku, untuk WNI hanya bisa masuk lewat darat dua kali dalam setahun, tapi tetap dapat 30 hari, bukan 14 hari. Sebelumnya, pada awal Juli 2017 kami masuk Thailand melalui laut dengan ferry dari Langkawi ke Satun, apakah itu termasuk land border crossing? Mungkin kawan-kawan ada yang bisa memberi penjelasan.

CHIANG RAI – CHIANG MAI
Di Chiang Rai, kami sewa motor (THB 150) dari pemilik guesthouse untuk day trip ke White Temple (Wat Rong Khun), Blue Temple ( Wat Rong Suea Ten) dan Golden Triangle + Museum opium. Kondisi jalan di Thailand memang juara, setelah dua bulan bermotor dengan ANJAY! rasanya pengen ngebut aja dikasih jalanan yang lebar dan mulus, cuma sedikit kagok karena harus membiasakan lagi untuk berkendara di sisi kiri jalan.

Setelah selesai keliling Chiang Rai, kami naik Green Bus ke Chiang Mai pada 3 November 2017 untuk merayakan Loy Krathong, harga THB 166 (ada yang lebih murah seharga THB 129 tapi sudah full booked saat kami beli langsung di stasiun H-1) dengan waktu tempuh 3 jam. Setelah sampai Chiang Mai, kami langsung order grabcar menggunakan kode promo untuk menuju hostel, lumayan tumpangan gratis, tapi jangan lupa memberi tip yang pantas lah kalau dapet gratisan taksi online di manapun. Setelah check-in, kami lanjut makan siang lalu menuju rental motor untuk menyewa selama seminggu. Ke mana lagi naik motor?

Bersambung di postingan selanjutnya ya…

/* fb group poster start */ /* fb group poster end*/