#BIKrakow #BIPoland #BIAuschwitz

Selamat sore teman-teman BI, saya coba berbagi pengalaman berkunjung ke kota Krakow, Polandia, pada bulan April 2017 lalu.

Berawal dari tiket promo yg saya dapat ke Paris. Karena saya adalah tipe traveler dengan bekel pas-pasan, saya memutuskan untuk lebih banyak berkunjung ke Eropa bagian timur, karena katanya lebih murah. Dan Krakow menjadi destinasi wajib untuk saya karena satu hal: Auschwitz.

Auschwitz adalah sebuah kota kecil yang terletak sekitar 60 km dari Krakow. Disana terdapat camp konsentrasi Nazi terbesar di Eropa, yg sekarang dijadikan museum, dimana jutaan jiwa dari berbagai ras (bukan hanya Yahudi) dihilangkan dari muka bumi oleh sekelompok orang yang menyatakan rasnya lebih tinggi daripada orang-orang yang dibantainya. Ini adalah kali kedua saya mengunjungi tempat semacam ini, yang pertama adalah Tuol Sleng/Killing Fields di Kamboja. Mungkin bukan pilihan traveling yang biasa, tapi bagi saya, belajar dari masa lalu itu penting biar kita bisa move on lebih cepet. #eh

Saya berangkat dari Praha bertiga, dengan menggunakan Polskibus seharga 29 zloty. Sampe terminal Krakow jam 04:50, kemudian nunggu sampe money changer buka, karena ngga punya mata uang Polandia sedikit pun. Sempet kebelet pipis, dan toiletnya cuma bisa dimasukkin kalo kita bayar beberapa zloty ke dalam mesin penjaga pintu. Coba nuker euro pake zloty ke cewe yg baru aja keluar dari toilet, eh dikasih begitu aja sama si cewe, gratis. Duh, terimakasih ya gadis cantik. Udah cantik, baik pula, semoga kebaikan dilimpahkan padamu karena udah nolong saya terhindar dari penyakit kencing batu.

Nah, berikut beberapa poin yang mungkin dapat menjadi informasi untuk berkunjung kesana:

1. Money Changer
Rate yg kami temukan paling bagus adalah di mall Galeria Krakowska. Mall ini letaknya di depan terminal bis dan angkot. Terminal bisa diakses dari dalam mall.

2. Penginapan
Kami menginap di B Movie Hostel, letaknya dekat dengan Wawel Castle. 6 bed dormitory dihargai kurang lebih 80 ribu rupiah. Tempatnya nyaman dan bersih, terletak di gedung semacam apartemen yang mesti pencet tombol buat minta gerbangnya dibukain. Gedungnya serem, tapi hostelnya ngga kok. Bapak penjaga hostel dengan kumis tebalnya keliatan jutek banget pas waktu dateng, bikin males, eee pas ngobrol malah ramah banget, senyum-senyum terus kaya mas Adamnya Inul Daratista dan cukup helpful. So, never judge a man by his moustache.

3. Getting around Krakow
Bisa jalan kaki atau naik trem. Beli tiket trem di mesin penjual tiket otomatis. Ada pilihan batas waktunya, misal 30 menit, 90 menit, 1 hari dengan harga bervariasi.

4. Menuju Auschwitz
Dari terminal kita bisa naik angkot jurusan Oswiecim (nama Polandia untuk Auschwitz) seharga 12 zloty sekali jalan, berarti 24 zloty pp (yaiyalah). Bisa beli tiket di loket, atau bayar langsung ke pak supir angkot. Angkotnya semacam van, ada tulisan di kaca depan itu angkot ke jurusan mana. Sekitar mall dan terminal bakal banyak calo yang nawarin paket tour ke Auschwitz ataupun ke tambang garam yang terkenal itu. Cuekin aja dan bilang: “maaf, saya udah ada yg punya”, kalo ngga mau bayar mahal. Perjalanan ke Auschwitz memakan waktu ±1.5 jam dan turun tepat di depan gerbang museum. Nanti pulangnya nyegat angkot di tempat yang sama. Sepanjang perjalanan menuju Auschwitz kita akan disuguhi pemandangan desa-desa yang cantik dan tenang. Sesekali ada dedek-dedek gemes yang naik dan turun, mungkin mau kerja kelompok di rumah temannya.

5. Tiket masuk museum Auschwitz
Biaya masuk Auschwitz sebetulnya gratis, tapi kita semacam sangat disarankan untuk pake guided tour yang haganya bervariasi tergantung bahasa apa yg dipilih. Dan rasanya kalo ngga pake guided tour ngga bisa masuk..hehe. Informasi dan reservasinya bisa dilihat di web resmi museum: http://auschwitz.org/en/. Seandainya ngga kebagian reservasi guided tour, boleh nekad datang seperti yg kami lakukan saat itu. Beruntung, kami masih bisa masuk dan dapet tour guide bhs Inggris seharga 45 zloty, kalo pake kartu pelajar jadi cuma 35 zloty.

Pertama kali saya melihat Auschwitz dari film Schindler’s List, film tahun 90an yg bercerita tentang Oskar Schindler, seorang Jerman yang menyelamatkan ribuan Yahudi, dengan cara dipekerjakan di pabrik enamelnya, sehingga mereka tidak masuk ke dalam daftar untuk dimasukkan ke camp konsentrasi. Sayangnya, saya ngga sempat berkunjung ke bekas pabriknya. Saya terkesima dengan luasnya Auschwitz. Tempat yang sedianya cantik, berubah menjadi ladang pembantaian yang masif. Ngeri sekaligus takjub, kok bisa ya orang jadi sekejam itu? Sejak itu, setiap kali lihat media yg menampilkan museum ini, semakin memperkuat keinginan saya untuk berkunjung.

Museum Auschwitz terbagi menjadi 2 bagian, Auschwitz I dan Auschwiz II (Birkenau). Keduanya terpisah sejauh ±3 km, bisa ditempuh dengan jalan kaki, atau dengan bis gratis. Sebelum masuk museum pun saya udah merinding, saat itu cuaca 1 derajat celcius, dan turun salju. Salju pertama saya, excited sekaligus kelabu, karena saya mengalaminya di tempat yang tidak menyenangkan. Saya aja yang pake baju hangat berlapis-lapis masih menggigil kedinginan, saya ngga bisa bayangkan bagaimana tawanan camp konsentrasi itu bertahan hanya dengan menggunakan baju tipis serupa piyama dan hanya selapis. Tidak heran, banyak tawanan yang mati bukan karena dieksekusi, tapi kedinginan. Tour guide saya adalah cucu dari salah satu tawanan yang meninggal di camp tersebut.

Auschwitz I jauh lebih kecil dibandingkan dengan Auschwiz II, tapi kita akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk tur di Auschwitz I. Tawanan disini meninggal dengan berbagai cara, sebagian besar di gas chamber. Mereka dimasukkan ke dalam ruangan tertutup, disiram, kemudian dimasukkan zat Zyklon B, tablet yg akan berubah menjadi gas beracun jika bercampur dengan air. Dibiarkan beberapa jam, kemudian mayat-mayatnya dibakar atau dikubur masal. Ada yang ditembak, digigit anjing peliharaan tentara Nazi, kelaparan, atau kedinginan. Bagi saya pribadi, tempat dimana salah satu sejarah terkelam manusia ini terjadi, menjadi pegingat bagaimana sebaiknya kita berlaku terhadap sesama.

Selain museum Auschwitz, di Krakow saya juga berkunjung ke Wawel Castle yang cantik dan gratis, dan juga Old Town Krakow yang sangat luas. Dari hostel, keduanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, walaupun cape sih..hehe
Adakah teman-teman BI yang sudah atau tertarik akan berkunjung ke Krakow?

1 zloty = 0.23 euro = 3700 rupiah

/* fb group poster start */ /* fb group poster end*/