Cerita dari Mui Ne dan Saigon, Vietnam

Saya masuk ke Vietnam lewat jalur darat, dari Pnom Phen, Kamboja. Kesan pertama saat menukarkan uang dari Riel kamboja ke Dong Vietnam adalah, jumlahnya besar. Ya, kurs mata uang Dong ini bisa dibilang dua kali lipatnya mata uang Rupiah. Kalo di Indonesia itu Rp 10.000,-, kalau di Vietnam 20.000 Dong.

Makanya, waktu di Vietnam, rasanya boros banget. Habis banyak banget. Tetapi sebenarnya, di Vietnam itu murah-murah. Penginapan juga ada yang 5 USD per malam. Untuk makanan harganya 30.000 Dong atau sekitar 1,5 Dollar.

Setelah sampai di pusan kota Ho chi min city, saya langsung membeli tiket untuk menuju ke Mui Ne dengan tarif 7 USD selam 6 jam perjalanan.

Bus yang membawa saya ke Mui Ne ini adalah sleeper bus. Jadi, tempat duduknya seperti tempat tidur, dan bertingkat. So, kalau Anda naik bus ini, Anda bisa bebas tiduran. Ada selimut dan bantalnya juga.

Di bus tersebut, saya berkenalan dg Fadzya Uzirrudin dr Malaysia yg ternyata member di grup BD juga. Saya dan Pakya kemudian sharing cost untuk menyewa penginapan saat sampai di Mui Ne. Satu kamar mewah kami sewa dengan harga 14 USD sudah lengkap dengan kamar mandi dalam, AC, dan TV. Anda bisa menemui penginapan ini di Mui Ne, namanya Hanh Café.

Tadinya saya piker Mui Ne ini adalah semacam gurun pasir. Ternyata Mui Ne ini adalah sebuah jalanan panjang yang di jalan itu berjejeran banyak sekali penginapan, bar dan tempat makan. Mui Ne ini adalah sebuah pantai. Kalau di Indonesia, ini semacam komplek pantai Kuta.

Sedangkan untuk menuju ke gurun pasir, saya harus naik Jeep. Harga sewa Jeep di Mui Ne adalah 8 USD. Bisa untuk 7 orang bersama driver. Dengan 8 USD, kita bisa berkeliling melihat pemandangan pantai yang penuh dengan kapal-kapan nelayan, white sand dunes, red sand dunes.

Esok harinya, karena jadwal keberangkatan Jeep kami adalah sore hari, pagi harinya kami melanjutkan berkeliling Mui Ne dengan berjalan kami.

Untuk tur saat di Mui Ne, sangat di rekomendasikan memakai Jeep. Karena perjalanan lumayan jauh (50 menit naik mobil Jeep). Harga paket Tur untuk White Sand Dunes, Red, Fury Stream, dan Fishing Village = 8 USD. Saya dapat paket tur nya di penginapan saya, seharga 8 USD. Paket tur bisa dengan mudah ditemukan di tempat-tempat penginapan sepanjang jalan pantai Mui Ne.

Untuk waktu tur, ada dua pilihan. Mau waktu sunrise atau waktu sunset. Kalau sunrise, waktu tur nya dimulai pagi hari sekitar pukul 5.00 sampai pukul 9 pagi. Kalau sunset (saya dulu ambil yang sunset), dari jam 2 sore sampai Maghrib.

One Day Trip – Mui Ne

Tepat pukul 14.00 waktu Vietnam, saya, Pakya, dan 3 orang backpacker asal Selandia Baru, berangkat ke Sand Dunes.

Sebelum ke Sand Dunes, kami berhenti di tempat para nelayan Mui Ne berkumpul. Di sana, pemandangannya sangat indah dengan ratusan kapal yang berlabuh di dermaga tersebut.

Fairy Stream

Kemudian, setelah dari dermaga tersebut, kami melanjutkan perjalanan ke Fairy stream. Sungai yang dibelah oleh batu batu berwarna merah bata. Katanya di ujung sungai ada sebuah air terjun kecil, yang hanya bisa di lihat dengan cara berjalan melintasi sungai sepanjang kurang lebih 2 km. Sayangnya, sudah jalan lama melintasi sungai kecil itu, akhirnya saya dan rombongan memutuskan untuk kembali lagi ke Jeep.

White Sand Dunes

Selanjutnya, White Sand Dunes, letaknya paling jauh tapi paling special dan begitu indahnya. Selama di perjalanan, saya sibuk melihat pemandangan savanna yang disuguhkan, apalagi sambil naik Jeep.
Dan, ketika saya sampai, ternyata White Sand Dunes jauh lebih indah dari yang saya lihat di internet. Begitu sampai di white sand dunes, banyak tukang sewa motor padang pasir yang rodanya 3 itu, dengan harga 50 USD untuk dua orang. Gila! Mahal amat! Mending jalan kaki.

Selama di white Sand Dunes, saya sangat menikmati atmosfer dan pemandangannya. Sungguh indah. Lain waktu harus kembali ke tempat ini, tentunya dengan mengajak teman-teman saya di Indonesia.

Kemudian, setelah satu satu jam menikmati white sand dunes, saya dan rombongan menuju ke Red Sand dunes, tempat dimana kami akan melihat sunset.

Kalau harus membandingkan, White Sand Dunes is way more beautiful. Di red sand dunes, ini tekstur pasirnya lebih kasar. Mungkin karena letaknya di pinggir jalan raya persis. Dan tempatnya cukup ramai. Saat jeep saya tiba, ada beberapa anak kecil yang menawarkan sewa papan fiber, sekali sewa 1 dollar.

Sore harinya, setelah menyaksikan sunset yang indah di red sand dunes, kami diantar ke penginapan masing-masing. Sebenarnya saya sudah tidak punya penginapan, sedangkan Pakya punya. Saya malam itu sudah memesan tiket untuk kembali ke Saigon (Ho chi mint city). Keberangkatan bus pukul 1 malam. Lumayan, untuk pengiritan.

Sambil menunggu keberangkatan ke Saigon, saya datang lagi ke restoran Martin (pengusaha restoran di Mui Ne) untuk makan malam bersama Pakya. Kebetulan Martin masih di restoran. Saya dan Pakya pamitan untuk melanjutkan perjalanan dan mengucapkan terimakasih atas sambutannya yang ramah di Mui Ne.

Eh, tiba-tiba pelayan restoran tersebut menyajikan 3 kaleng minuman bir. Hahaha. Saya dan Pakya menjadi salah tingkah. Kemudian Martin mengajak bersulang. Bersulanglah kami semua sambil saya dan Pakya saling lirik.

“Saya muslim, saya tidak minum bir,” Kata Pakya.

“Kenapa tidak boleh minum bir?,” Tanya Martin. Ia bertanya sambil tersenyum. Sepertinya dia memang sudah tahu kalau kami tidak minum bir. Tetapi ia tetap memesankan bir untuk kami berdua, dan yang saya lihat ia hanya ingin mengetes kami kemudian ingin tahu alasan kenapa orang islam tidak boleh minum bir.

“Itu sudah menjadi aturan di agama kami. Bir itu haram, memabukkan,” Jawab Pakya.

“Okey,” Jawab Martin. “Biar saya saja yang minum birnya. Sekali minum, saya memang sering habis banyak, kadang 5 bir. Menghabiskan 3 bir itu mudah untuk saya,”

Kami tertawa.

SAIGON

Saya baru sadar kalau Saigon itu adalah Ho chi min city saat membeli tiket slepeer bus dari Mui Ne ke Ho chimin city. Waktu itu saya bingung karena di agen penjualan tiket tidak tercantum nama HCMC.

“Bus yang ke HCMC tidak ada?” Tanya saya.
“Oh ada, ini…” Jawab petugas tiket
“Mana?” Tanya saya lagi.
“Saigon, saigon is HCMC..”

Ooohh 😀

Pagi hari yang masih gelap, ratusan warga Vietnam sudah berolahraga di taman pusat kota Ho chi min city, tepatnya di samping komplek backpacker, Pha Ngu Lo. Turun dari sleeper bus, saya langsung ke taman tersebut untuk melihat orang-orang Vietnam berolahraga.

Suasana pagi itu, sangat hidup. Setiap orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Fasilitas publik di taman tersebut membuat suasana kota menjadi lebih menyenangkan. Setiap orang bisa olahraga dengan bebas dan gratis. Inilah taman kota yang membuat saya ingin kembali lagi ke Vietnam, suasananya nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Siang harinya, saya berkeliling ke beberapa destinasi wisata di pusat kota, terutama destinasi yang gratis seperti museum. Termasuk ben thanh market, ho chi min city. Pengalaman menarik di ben thanh market adalah saya memasang muka tembok disitu.

About Ben thanh market :
1. Harga-harga yang ditawarkan di pasar tersebut biasanya 5 kali lipat dari harga aslinya. Walaupun ada juga yang memang sudah fix price alias sudah tidak bisa ditawar. Saya waktu itu beli kaos Hard Rock Café Vietnam, awalnya seharga 250.000 Dong, bisa saya tawar jadi 50.000 Dong. 😀
2. Penjual-penjual di ben thanh market itu banyak yang bisa berbahasa Melayu. Makanya, mentang-mentang muka saya muka orang melayu Indonesia, mereka menyapa saya dengan panggilan, “Bang, mau beli apa ini murah bang,”

Sore harinya, saya menuju ke bandara Tan Son Nhat dengan naik bus kota jurusan bandara, kalau tidak salah bus nomer 158. Harganya sangat murah. Waktu itu saya naik seharga 5.000 Dong + 5.000 Dong jika membawa ransel besar. Karena saya bawa tas besar, saya kena tariff dua kali lipat.

Selain naik bus, ada pilihan lain yaitu naik ojek atau taksi. Tarifnya luar biasa. Diatas 100.000 Dong. Mending saya naik bus kota saja. Namun, bus kota tidak beroperasi sampai malam hari, hanya sampai jam 6 sore. Makanya, sebelum jam 6 sore saya sudah naik bus itu untuk menuju ke bandara. Malam itu saya menginap di bandara, karena jadwal pesawat Jetstart saya tujuan Singapore adalah pagi hari. :))

NB : Cerita diatas adl perjalanan saya 2 bulan yang lalu ke Vietnam, tepatnya ke Saigon dan ke Mui Ne. Barangkali ada yg berencana ke Saigon atau ke Mui Ne, bisa buat referensi. Sumber : http://rizqiakbarsyah.blogspot.com/2015/02/terpesona-dengan-keindahan-vietnam.html

/* fb group poster start */ /* fb group poster end*/