Desa Batu Tering The Three Adventure : Liang petang, Liang bukal, dan Situs Ai Renung (Sarkofagus)

Refrensi tempat liburan yang sangat bagus buat Sahabat Backpacker Nusantara yang suka wisata alam plus sejarah.

Kali ini saya akan membahas suatu tempat yang menawarkan wisata berbasis batu. Bukan akik loo, yang kemaren sempat menjadi trend dimasyarakat Indonesia, melainkan suatu desa yang dimana di sekitar desa tersebut terdapat tiga lokasi wisata yang berbasis batu.
Desa tersebut bernama Batu Tering yang terletak di Kecamatan Moyo Hulu dan berjarak sekitar 29 km dari kota Sumbawa Besar Provinsi Nusa Tenggara Barat

Desa yang mayoritas penduduknya adalah petani dan peternak ini memiliki alam yang begitu indah dihiasi oleh sungai kecil bertebing batu-batu besar dan dikelilingi hutan tropis yang masih terjaga kelestariannya. Penduduknya masih mempertahankan budaya dan kesenian tradisional Sumbawa terutama pada saat penyelenggaraan berbagai kegiatan upacara daur hidup seperti perkawinan, kelahiran dan kematian. desa ini adalah pintu masuk menuju liang petang dan situs Ai Renung (letak sarkofagus) serta tidak jauh dari liang petang terdapat sebuah Gua Kelelawar (Liang Bukal)

1. Liang Petang

Liang menurut bahasa setempat berarti lubang atau goa, sedangkan petang berarti malam atau gelap. Sesuai namanya, goa ini memang sangat gelap dan untuk masuk kedalamnya anda diharuskan membawa alat penerangan baik obor, senter ataupun jenis-jenis alat penerangan lainnya yang bisa membantu anda untuk melihat sekitar.

Goa ini memiliki beragam keunikkan serta rangkaian slaktit dan stalagmit yang memukau bahkan banyak bebatuan dalam goa ini menyerupai hal-hal yang familiar bagi manusia. Salah satu contoh yang paling menarik adalah batu mayat. Dikatakan demikian karena bentuknya seperti tubuh manusia dan memang dipercaya oleh masyarakat bahwa batu tersebut adalah mayat yang telah membatu. Selain itu, anda juga bisa melihat bentuk-bentuk batu lainnya yang menyerupai tempat tidur, balai-balai, tempat pertapaan bahkan alat tenun. Goa ini juga terbagi atas kamar-kamar sehingga dipercaya dulunya merupakan tempat yang pernah dihuni dan merupakan pusat penyebaran islam di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Goa dengan panjang lebih dari 500 meter ini dihuni oleh banyak kelelawar, tak jarang anda bisa melihat bayi-bayi kelelawar di dalam Liang Petang serta bau kotoran kelelawar yang khas. Liang Petang tergolong cukup luas dan memiliki banyak ruangan-ruangan. Bahkan, banyak wisatawan yang tidak sempat mengeksplorasi sepenuhnya isi goa ini. Jadi, apabila anda tidak ingin merasa bingung, anda bisa menyewa guide lokal yang akan memandu anda, baik dari cara menuju Liang Petang, hingga perjalanan di dalam Liang Petang.

Sumber Foto : http://lombok.panduanwisata.id/beyond-lombok/menjelajahi-gua-liang-petang-di-desa-batu-tering

2. Liang Bukal (Gua Kekelawar)

Tidak jauh dari Liang Petang terdapat sebuah Gua Kelelawar yang dalam bahasa Samawa disebut Liang Bukal. Liang Bukal memiliki arti Lubang Kelelawar karena memang goa ini dihuni oleh banyak kelelawar dan saat anda mendekati mulut goa ini, bau khas kotoran keleawar mungkin akan langsung menyambut kedatangan anda. Walaupun begitu, jangan sampai anda mengurungkan niat untuk menikmati pesona dalam goa ini. Walaupun begitu, dari depan pun anda sudah bisa menikmati kecantikkan Liang Bukal. Anda bisa menemukan aliran sungai yang sangat segar dan bisa anda gunakkan untuk bermain air ataupun langsung mandi. Asal jangan lupa membawa pakaian ganti jika tak ingin mengenakan pakaian basah saat pulang.

Letak Liang Bukal berada sekitar dua kilometer dari jalan utama desa, sehingga dibutuhkan tenaga yang cukup baik ketika berwisata ke tempat ini. Trek yang akan anda lewati juga cukup menantang dimana anda harus melewati jalan berbukit yang cukup menanjak dan berbatu. Rumput serta ranting-ranting liar juga seringkali mengenai kaki dan tangan anda sehingga harus lebih berhati-hati.

Walaupun begitu, perjalanan menuju goa ini akan sangat mengasyikkan bagi anda yang menyukai tantangan dan petualangan. Anda juga bisa menggunakkan kendaraan roda dua untuk mencapai goa, sayangnya kondisi jalan yang kurang baik bisa saja lebih menyulitkan dan melelahkan ketimbang anda memilih untuk berjalan kaki. Untuk yang membawa kendaraan, anda bisa menitipkannya di rumah penduduk setempat

Sumber foto : http://www.mutiarasasak.com/2015/03/berwisata-ke-liang-bukal

3. Situs Ai Renung (Sarkopagus /Kuburan Batu)

Agak berbeda dengan objek wisata yang sebelumnya ane bahas diatas, objek wisata ini agak sedikit serem lo, seperti siarah makam gitu, namun kita tak tau siapa yang punya makam “just kidding”. Oke ane perkanalkan sarkopagus atau disebut pula kuburan batu merupakan suatu tempat yang pada zaman dahulu digunakan untuk menyimpan jenazah. Konon sarkofagus Ai Renung dibuat pada zaman megalitik, sekitar 2000 SM, dan dijadikan tempat pemakaman kepala suku.

Dari sumber https://bangmek.wordpress.com/2011/09/27/mengenang-kembali-kerajaan-ai-renung

Situs ai renung pertma kali ditemukan sekitar pada tahun 1971 oleh Haji Dinollah Rayes masih menjabat Kabid Kebudayaan Depdikbud Kabupaten Sumbawa ( Diknas sekarang ) bersama Drs. Made Purusa dari Balai Arkeologi Denpasar serta tenaga ahli dari pusat Arkeologi nasional yang melakukan penelitian pertama. Pada penelitian pertama hanya ditemukan tiga buah sarkofagus ( kuburan batu). Kemudian pada penelitian berikutnya ditemukan lagi tujuh buah sarkofagus.

Situs sarkofagus Ai Renung di daerah Batu Tering, Sumbawa Besar adalah bukti sejarah bahwa daerah Sumbawa telah berkembang sejak masa jaman Neo Lithicum. Situs berupa makam yang terbuat dari batu ini terdapat di beberapa lokasi di daerah Batu Tering. Masing-masing lokasi tidak terlalu berjauhan jaraknya dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki dalam hitungan menit saja. Di beberapa makam terdapat relief yang menjelaskan siapa yg dimakamkan disitu dan ada pula relief yg konon menceritakan kematian sang empunya makam. Makam-makam itu sendiri dibuat dari batu besar yg dipahat sedemikian rupa hingga bisa menempatkan jenazah manusia didalamnya. Kemudian dibuat penutup yang juga terbuat dari batu yang dipahat.

Untuk menuju ke situs Ai renung tersebut, Sahabat Backpacker Nusantara akan mengalami hambatan, karena yang dilalui hanya jalan setapak, berjarak sekitar 7 km dari Batu Tering. Jangankan mobil, sepeda motor saja tidak bisa ke lokasi sarkofagus. Ini karena jalan masih setapak, mengakibatkan sulit dijangkau kendaraan. Kendati demikian Sahabat Backpacker Nusantara bisa datang ke Ai Renung dengan cara menunggang kuda.

/* fb group poster start */ /* fb group poster end*/