#BIBahasa #BIIntenUtari
Beberapa kali saya baca di postingan BI banyak yang masih takut traveling karena kendala bahasa Inggris.
Banyak saya lihat yang memberi saran sangat positive dan berusaha menyemangati anggota untuk tidak ragu, tidak takut, bekali diri dengan belajar terus dan tetap traveling.

Saya sangat suka melihat lingkungan BI yang sangat suportive soal informasi, saling memperdayakan satu sama lain.
Wajar aja dong orang-orangnya banyak piknik, gimana ga open minded.
Istilah senang lihat orang susah, susah lihat orang senang sepertinya jauh dari gerup bekpeker ini.

Bertahun-tahun lalu saya pun tak bisa berbahasa Inggris dengan lancar bahkan sangat nerpes untuk sekedar komunikasi.
Sampai hari ini pun grammar saya kacau dan soal menulis dan membacanya payah.
Saya mungkin seumur hidup sudah biasa melihat orang asing sejak memori saya sudah ada, ngehalo-haloin orang asing dari kecil bahkan sering bilang “I love you” ke turis juga. Sampai bapak saya pernah marahin saya di rumah karena tadinya di pasar saya bilang “I love you” (alovyu) ke turis yang lewat. Waktu itu saya pikir kata “halo” kalo dipanjangin jadi “alovyu”. Setelah gedean dikit saya baru ngerti kenapa bapak saya marah saya bilang halovyu.
Beruntung, mungkin kata yang tepat disebutkan karena saya tak perlu kesusahan jika memang niat praktek langsung bahasa Inggris, tinggal cebur kali aja ketemu orang asing yang mau diajak praktek inggeris.

Tapi beberapa anggota BI perjuangannya berat untuk belajar, saat kecil mungkin pendidikan dasar kita ga banyak yang bagus memberikan dasar didikan bahasa Inggris yang baik dan benar. Belum tentu juga di daerahnya ada daerah yang dikunjungi orang asing. Jadi tempat praktek langsung ga ada. Ada yang ambil kursus supaya bisa dapat nilai bagus di sekolah, atau untuk persiapan traveling, ada juga yang memanfaatkan aplikasi untuk dapat pelajaran tapi gratis. Kita tau hebatnya google translate bisa terjemahin bahasa Indonesia ke berbagai bahasa lain di dunia ini.

Dulu saya sampai join di couchsurfing supaya bisa belajar bahasa Inggris dan praktek langsung sama orangnya lebih intens.
Waktu eike masih muda dan single😁.
Jadi waktu itu saya sudah mulai traveling ke luar negeri tapi belum banyak. Niatan utama join grup itu memang biar praktek langsung. Jadi di Bali saya siapkan kamar untuk backpacker dari seluruh Indonesia dan seluruh dunia yang mau tinggal. Epek sampingnya, saya sama mereka ngobrol in English dan bisa berbagi informasi traveling.
Bonusnya dapat teman kencan πŸ˜†.
Saya pernah memiliki hubungan romantis dengan berbagai pria berbagai ras dari berbagai negara.
Dapetlah cipok-cipokan dikit!
Kikikikikikikik….
Walaupun ga berhasil karena kendala bahasa, budaya dan mereka biasanya backpacker, ga akan diam disuatu tempat. Jadi wajar aja hubungannya tidak bisa dibangun dengan baik.
Soalnya gimana ga kendala, wong emosinya ga sampai, mau marah saya cuma tau F*CK You! Bahkan ada yang kandas karena langsung sebutin, kalo saya punya kendala bahasa jadi hubungan ini ga akan berjalan. 😭 Ada pula yang memang bukan native English Speaker jadi kalo komunikasi sayanya bahasa Inggrisnya kriting, dianya bahasa Inggrisnya setengah mateng. πŸ€”

Anyway ga masalah semua hubungan itu kandas, kalo hubungan kami dulu sukses saya ga akan ketemu suami saya yang sekarang yang bisa asik diajak traveling bareng. πŸ‘ŠπŸΎ
Kadang peristiwa buruk terjadi karena semesta sudah merencanakan hal yang lebih baik untuk kita di masa depan.

Ok inaaafffff soal hubungan asmara saya.

Traveling adalah soal belajar tiada henti.
Jika memang kelemahan kita di bahasa, kenapa ga kita ikut kursus? Berdayakan diri untuk menjadi lebih baik, fokus untuk menjadi lebih dari diri kita hari ini. Anggap saja traveling ini kuliah S2. Dimana tesnya adalah tes langsung yang dipraktekkan. Hasilnya kita sendiri yang menikmati.

Soal pede ga pede praktek bahasa Inggris adalah soal kebiasaan. Makin sering dilakukan akan makin lancar. Soal salah atau benar juga urusan nanti.

Ingat kita orang Indonesia dari sejak kecil minimal sudah tau 2 bahasa yang benar-benar berbeda dari bahasa Indonesia.

Point plus, kita sudah terbiasa dengan multi bahasa. Coba bayangin orang Inggris cuma tau Inggris aja lho atau orang Itali cuma tau Itali.
Kita itu salah satu yang beruntung kenal multi bahasa dari sejak kecil. Entah itu Jawa, Batak, Mandarin, Arab, atau bahasa gaul “Kagamugu sugudagah magakagan?”
(Ketahuan waktu kecil suka gosip).

Kalau kita ketemu traveler lain macam orang Jepang, China, Rusia mereka banyak yang ga bisa bahasa Inggris, tapi mereka ga berhenti traveling. Banyak diantara mereka masih muda tetep aja cuss walau diajak ngomong cuma ngangguk-ngangguk doang.

Yang sering ke Thailand tau kan gimana susahnya bahasa Inggris disana? Anak muda lho ga bisa bahasa Inggris. Belum lagi di Vietnam, haduhhh pikir orangnya ngajak berkelahi, bentak-bentak padahal cuma nyuruh mindahin motor supaya ga ketabrak. “No Ingglit, No Ingglit” (No English).
Apalagi di negara negara Latin, bilang deh mukanya bule, tapi kadang bahasa Inggrisnya Zero. Ditanya jalan malah nanya “como?” – apa?.
Padahal bahasa Spanyol bisa dibilang mirip bahasa Inggris, yang jualan massage ga bisa bilang massage ke orang asing, saking malesnya cuma bisa bilang “masaje, masaje” (dibaca masahe, bahasa Spanyol untuk massage), kurang mau memiliki daya jual lebih ke turis asing.

Bahasa adalah jembatan komunikasi. Bukan untuk gaya-gayaan.

Wajar jika bahasa Inggris kita ga sempurna karena bukan bahasa ibu kita. Kadang juga salah penempatan.
Yang mesti kita lakukan traveling aja terus, buka google dalam bahasa Inggris karena update info terbaru info traveling biasanya dalam bahasa Inggris, selain praktek, kita juga langsung dapat info. Kalo masih ga ngerti juga, pakai google translate.

Kalau bahasa Inggris kita lebih bagus dari orang lain bukan berarti kita lebih cool dari orang tersebut. Jika bahasa Inggris kita ga bagus harusnya kita belajar lebih giat lagi.

Kalo seandainya ada yang membully kita, yang membully itu yang tidak tahu banyak. Baik itu karena dia tidak tahu kita tau lebih dari 2 bahasa, atau tidak menghargai kita ingin praktek langsung.
Orang yang tertawa atas kelemahan orang lain itu pertanda orangnya kurang dari kita.

Keep traveling, karena traveling akan menambah rasa percaya diri dan nambah ilmu.
Salam bolang!

Update: dengan seringnya saya traveling ke berbagai tempat, saya tidak hanya tahu, bahwa bahasa Indonesia itu serumpun dengan bahasa Malaysia dan Brunei.
Tapi memiliki kedekatan karena sejarah dan georgrafis dengan berbagai negara kayak Pilipina, Sansekerta (paling banyak-India), Arab, China, Asia Tenggara dan sekitarnya, Belanda, Spanyol, Inggris, Portugis. Bahkan sampai Afrika, Amerika Selatan pun banyak turunan bahasa yang kita dapatkan karena bahasa Indonesia sangat berkembang secara terus menerus.
Jadi dimanapun orang Indonesia ditempatkan akan sangat bisa bertahan dan berkomunikasi dengan orang setempat.

Link saya bagikan yang berkaitan dengan bahasa dan traveling.

Kamus seluruh umat manusia jika ingin dimengerti dan dipahami:
https://translate.google.com/m/translate

Komunitas couchsurfing:
https://www.couchsurfing.com/

Kalo mau belajar Espanyol yang ini :
https://www.duolingo.com/

Supaya ga keseringan nanyain arah pakai ini:
https://www.google.com/maps/@37.6,-95.665,3z

Blog iseng saya
http://seringtravel.com/

Find local businesses, view maps and get driving directions in Google Maps.

/* fb group poster start */ /* fb group poster end*/