Halo BDers,

Saya akan berbagi sedikit kisah jalan-jalan sendirian ke New Zealand (NZ/Selandia Baru) selama 16 hari (22 November-7 Desember 2015) menggunakan bus antarkota (hop on-hop off bus). Saya lihat di grup ini biasanya berbagi tentang perjalanannya menggunakan mobil/karavan sewaan dan masih jarang yang berbagi soal bus antarkota. Berhubung saya sendirian dan tidak bisa manyetir mobil, maka pilihan saya waktu itu jatuh pada bus antarkota. Rute saya selama 16 hari: Auckland-Rotorua-Matamata (Hobbiton)-Taupo-Wellington-Picton-Nelson-Punakaiki-Hokitika-Fox Glacier-Wanaka-Milford Sound-Queenstown-Tekapo-Christchurch.

Oh ya, untuk tiket pesawat dan visa, saya berburu semuanya ketika masih kuliah di Melbourne (jadi saya tidak tahu berapa tiket murah dan prosedur/biaya visa di Indonesia). Jika BDers berencana ke NZ dari Australia, tiket murah bisa dicek di website Jetstar atau Virgin Australia. Waktu itu saya mendapat tiket Jetstar sekitar 200 dollar Australia (kurang-lebih 2 juta Rupiah) PP! Lalu untuk akomodasi, banyak pilihan cukup terjangkau di NZ. Harga 1 bunk bed di kamar dormitory sekitar 18-35 dollar NZ. Ada YHA di hampir semua kota yang populer disinggahi traveller. Jika BDers ingin menginap di YHA terus selama perjalanan, bisa daftar jadi member di website YHA untuk mendapatkan diskon 10%. Tiap hostel dilengkapi dapur yang lengkap, bahkan di YHA Rotorua, ada vending machine yang menyediakan Indomie Goreng! Untuk isi ulang air, bisa dilakukan dari keran dapur hostel. Airnya bersih dan lebih segar daripada di Australia (menurut saya). Belanja bahan-bahan makanan bisa dilakukan di Pak ‘n Save, Countdown, New World, atau Farmers Market (pasar penduduk lokal jika kebetulan hari kunjungan bertepatan dengan digelarnya pasar). Untuk BDers Muslim, karena mencari daging halal tidak semudah di Australia, bisa diakali dengan membeli frozen seafood atau makanan vegetarian di supermarket.

Perjalanan ke NZ sendiri merupakan perjalanan santai dan menikmati suasana bagi saya, karena beberapa hari sebelum keberangkatan, pikiran sudah terkuras menyelesaikan tugas-tugas kuliah dan tenaga terkuras setelah menjelajah wilayah gurun di Uluru-Alice Springs, hehehe. Di sana saya tidak mencoba olahraga ekstrim atau trekking yang cukup berat. Kebanyakan waktu saya nikmati menjelajah kota, menikmati makanan lokal, dan piknik santai di taman/pinggir danau. Kebetulan di NZ pada bulan itu sedang musim semi, sehingga cuacanya sering cerah tapi sejuk dan bunga-bunga cantik bermekaran.

Rute perjalanan saya selama 16 hari dimulai di North Island (Auckland) dan berakhir di Christchurch (South Island). Saya menggunakan bus pass FlexiPass dari Intercity. Intercity (www.intercity.co.nz) ini adalah perusahaan bus tertua di NZ yang menyediakan beberapa pilihan bus pass. Saya memilih FlexiPass karena pass ini dihitung dengan banyaknya jam yang dihabiskan ketika perjalanan dan kita bisa menyusun itinerary semau kita. Di website kita tinggal memilih mau berapa jam (pilihanya 15-60 jam). Contohnya, saya waktu itu memesan FlexiPass untuk 55 jam (harga 415 dollar NZ) karena mau menjejaki kedua pulau. Nah, 55 jam ini terpotong ketika kita menggunakan jasa bus untuk perjalanan pindah kota. Pass ini juga termasuk tiket feri untuk menyeberang dari North Island ke South Island, sehingga kita tidak perlu repot-repor beli tiket feri terpisah. Selain itu, kita juga bisa memasukkan biaya tur yang ingin kita lakukan, seperti tur ke Milford Sound, Waitomo, Hobbiton, dll. Pass ini berlaku selama 1 tahun dan bisa kita atur lewat website, hanya dengan memasukkan nomor referensi booking dan password. Saya berkali-kali booking dan cancel rute lewat website. Enaknya lagi, pembatalan rute bisa kita lakukan maksimal 2 jam sebelum keberangkatan rute awal. Jika jam yang kita beli terasa kurang, kita bisa top up lewat website juga.

Selain InterCity, ada juga beberapa operator bus antarkota lainnya. Salah satu yang lebih budget friendly adalah Naked Bus (www.nakedbus.com). Bedanya, pass Naked Bus lebih murah dan dihitung jumlah kota (pilihannya 3-20 kota), bukan jam. Ada teman saya booking pass Naked Bus 10 kota (North & South Island, pilihan kota sesuka kita) hanya dengan 269 dollar NZ. Namun, harga ini belum termasuk tiket feri dan pilihan tur. Naked Bus juga tidak sefleksibel InterCity untuk pembatalan rute. Sistem pengaturan rute sama dengan InterCity, tinggal masuk di website-nya dan booking/cancel rute.

Selain bus pass, kedua operator di atas juga menyediakan tiket satuan. Mereka sering mengadakan promo 1 dollar NZ, tapi karena saya nggak dapat melulu, saya beli yang pass saja. Sama seperti Jepang, beli/tidak pass tergantung kebutuhan perjalanan masing-masing. Karena saya mau menjelajah dari utara ke selatan, maka saya memutuskan membeli pass lebih praktis dan murah daripada satuan.

Berikut beberapa hal yang menarik dalam perjalanan saya menggunakan bus pass:
1. Sebelum keberangkatan ke NZ, ketika kita akan pesan bus pass dan akomodasi, ada baiknya kita ‘bersahabat’ dengan Google Maps untuk mengecek seberapa jauh bus stop dan akomodasi yang kita incar. Karena saya di sana banyak jalan kaki, saya selalu memilih hostel yang jaraknya maksimal 2 km dari bus stop. Jalan kaki di NZ enak sekali; udaranya bersih dan kota-kotanya minim polusi. Ada pula pilihan overnight bus di beberapa rute (misal Rotorua-Wellington). Cocok untuk BDers yang mau menghemat akomodasi. Jadi, jangan malas riset, cek-ricek sebelum berangkat ya!

2. Bus antarkota biasanya berhenti menunggu penumpang di spot-spot yang mudah ditemukan, entah itu di gedung besar/stasiun/pusat kota atau i-Site (pusat informasi wisatawan, ada di tiap kota). Ketika kita booking rute, di situ sudah tertera alamat bus stop. Usahakan datang paling tidak 15-30 menit sebelum keberangkatan, karena supir harus mengecek nama dan rute booking kita sebelum bus berangkat.

3. Selama 16 hari, saya sama sekali tidak berganti SIM card HP di sana. Bus antarkota menyediakan free wi-fi. Pun ketika di luar hostel, di beberapa sudut kota tersedia free wi-fi. Tinggal lihat boks seperti boks telepon berwarna pink dengan tulisan ‘Free Wi-fi Zone’. Untuk meminimalisir tersesat di jalan tanpa akses internet, saya selalu print screen lokasi tujuan di HP atau menuliskan alamat/menggambar denah sesuai di Google Maps sebelum keluar bus/hostel. Atau bisa juga tanya orang lokal di jalan. The Kiwis (julukan orang NZ) yang saya temui selama perjalanan biasanya ramah dan menyenangkan diajak ngobrol.

4. Jangan takut bosan selama perjalanan! Perjalanan menggunakan bus tentu bukanlah perjalanan singkat. Pemandangan selama perjalanan tidak boleh dilewatkan. Siapkan kamera selama perjalanan, karena kita akan melewati hutan, gunung, sungai, danau, padang rumput, padang bunga, dan kawanan sapi/domba selama perjalanan. Jika tidak tidur, saya suka foto-foto pemandangan luar, internetan pakai wi-fi gratis bus, mengobrol dengan orang lokal/traveller lain yang duduk di sebelah, membaca, ngemil, atau sekadar menjadi pendengar setia supir bus. Sebagian supir bus, terutama yang rutenya panjang (misal Nelson-Fox Glacier, Queenstown-Christchurch), suka merangkap sebagai ‘tour guide’ dengan menjelaskan sejarah dan fakta-fakta menarik daerah yang dilewati. Bahkan ibu supir jurusan Queenstown-Christchurch bercerita tentang masa kecil dan keluarganya ketika melintasi desa-desa kecil dekat Lake Tekapo. Sepanjang perjalanan, bus akan berhenti beberapa kali di rumah makan atau tempat-tempat menarik gratisan yang cocok untuk foto-foto selfie/wefie, misalnya Punakaiki (Pancake Rocks), kota kecil Hokitika, dan Lake Tekapo.

5. Tidak boleh membawa makanan panas di dalam bus. Menurut salah satu supir, makanan panas potensial menyebarkan bau yang bisa membuat penumpang lain mual dan muntah selama perjalanan. Selama di dalam bus saya selalu membawa bekal sandwich buatan sendiri, air minum, buah, dan cemilan untuk di jalan.

6. Untuk tur ke atraksi wisata, seperti Hobbiton dan Milford Sound, ada baiknya kita bandingkan antara harga yang ditawarkan operator tour di website, operator bus, hostel, dan i-Site. Kadang harga di i-Site lebih murah daripada kita beli langsung di operator tour-nya (contohnya pesiar Lake Taupo), tapi kadang sebaliknya. Jadi, lagi-lagi, kita tidak boleh malas riset untuk mendapatkan harga terbaik. Selain berfungsi sebagai pusat informasi, beberapa i-Site di NZ menjual souvenir dengan harga terjangkau juga. Staf-stafnya pun sangat ramah dan membantu.

7. Bagi pecinta bunga dan suasana asri nan tenang (juga pecinta selfie dengan bunga), saya sarankan mengunjungi taman setempat saat musim semi atau menjelang musim panas. Duduk di rerumputan atau bangku taman, melihat bunga, sungai/danau, dan dedaunan hijau sambil menikmati udara segar merupakan cara yang ampuh untuk bersantai setelah capek jalan seharian. Di beberapa taman bahkan terdapat taman bunga mawar yang indah dan sudah tercium bau wanginya dari luar. Selain itu, di dekat sungai atau danau (misalnya di Wanaka atau Tekapo) biasanya tumbuh bunga lupin warna-warni cantik yang sayang dilewatkan begitu saja.

8. Overall, perjalanan di bus sangat nyaman bagi orang yang sering mual seperti saya. Untuk meminimalisir mual, selalu sediakan air minum dan cemilan selama perjalanan. Boleh juga sediakan stok obat anti mabuk perjalanan dari Indonesia. Saya baru ketiban sial saat di feri dari Wellington menuju Picton. Waktu itu cuaca sangat jelek, hujan badai yang menyebabkan ombak tinggi, sehingga banyak penumpang (termasuk saya) yang mabuk laut. Tapi kapal ferinya sendiri nyaman, seperti kapal pesiar mini menurut saya, beda dengan kapal feri di Indonesia.

Sekian dari saya. Semoga membantu bagi yang ingin jalan-jalan sendiri atau nggak bisa nyetir di NZ. #BDNewZealand #BDSelandiaBaru

/* fb group poster start */ /* fb group poster end*/