Intermezzo.

” Sibolang ”

Umurnya masih sekitar 13 taon, masa kecilnya dia habiskan dengan teman teman sebayanya, bermain apa saja permainan anak anak di taon 70an, yang jelas belom ada permainan canggih.

Petualangan Sibolang dengan teman temannya ialah, nonton film layar tancap di kampung kampung di Jakarta yang sedang hajatan pernikahan, gratis, film diputar sekitar jam 10 malam dan berakhir jam 4 subuh, menyuguhkan berbagai macam film, dari film komedi Indonesi, film India, film koboy dan yang jadi favorit film Tarzan, kalo udah malem di putar film yang sedikit ‘hot’ mungkin permintaan penganten kali ya, Sibolang dan teman temannya melihat film ini dengan menutup mata yang satu, sementara yang satu terbuka lebar. Setelah film selesai mereka pulang kembali kerumah masing masing, jarak yang mereka tempuh sekitar 1 jam perjalanan.

Bukan cuma di situ, Sibolang dengan teman temannya ini, kalo bulan puasa mereka libur sekolah sebulan penuh, bisa dibayangin kemana aja mereka, nanti kita lihat mereka, tapi sekarang kita lihat mereka jika malam hari setelah teraweh, mereka menyewa becak (taon segitu masih ada becak beroperasi), bayar patungan dan putar putar sepuasnya sampe pagi dasar anak anak, satu becak dinaiki oleh bocah bocah sekitar 6 – 8 anak, pernah satu kali saking kencangnya becak meluncur di jalan Wolter Monginsidi yang menurun dekat pasar Santa Kebayoran Baru Jakarta, becak terperosok masuk di selokan. Becak rusak, tapi karena si abang becak baik hati dan dia ini mangkalnya di daerah kami, jadi dia ga marah marah, cuma minta diganti uang untuk perbaiki pelek yang melengkung angka delapan dan tambal ban dalam yang pecah, ini juga patungan.

Jiwa petualangan Sibolang dengan teman temannya semakin jadi. Setiap libur puasa adalah waktu yang di tunggu tunggu, dalam sebulan liburan puasa mereka beberapa kali ngebolang dengan uang jajan seadanya, dari rumah disekitar tempat mereka jatuh naek becak tadi, mereka jalan kaki kira kira 5 sampai 10 anak menuju stasiun kereta api Kebayoran Lama Jakarta dengan tujuan Parung Panjang, pabrik petasan tradisional (sekarang sudah di tutup).
Bagaimana caranya mereka bisa naek kereta, mereka masuk ke stasiun secara ngumpet ngumpet jauh dari penglihatan petugas stasiun dan kalo pluit kereta berbunyi tanda kereta mau berangkat, dengan cekatan mereka melompat ke dalam kereta dan langsung naek ke atas atap, untuk menghindar dari petugas pemeriksa karcis karena memang mereka tidak memiliki karcis dan merek di atas atap selama perjalanan.

Umur mereka bertambah besar, sudah klas 2 smp dan keberanian merekapun bertambah juga, satu ketika mereka sepakat ke kota Bandung, ada sekitar 5 anak dengan Sibolang, dengan uang jajan seadanya, uang jajan anak smp pada waktu itu taon 70an.

Singkat cerita dari Jakarta mereka naek bis ngeteng sampe di Bandung, akhirnya mereka tiba dengan selamat di Bandung, ternyata Sibolang dan teman temannya berkenalan dengan seorang anak yang seumuran, laki laki pastinya, setelah mereka puas berjalan di sekitaran jalan Braga dan alun alun Bandung, oleh kebaikan teman barunya mereka dipersilahkan bermalam di rumah kawan baru ini.

Esok harinya sekitar jam 9 pagi mereka berencana pulang ke Jakarta, ternyata uang mereka sama sekali ludes des des, ga ada sepeserpun, pada waktu itu mereka tidak mempunyai pikiran untuk minta tolong di belikan tiket kereta api, Sibolang punya ide, naek kereta api ga bayar karena emang ga punya uang, sesampainya distasiun kota Bandung, Sibolang berpikir keras bagaiman caranya ngomong kepada petugas stasiun, tetapi memang mereka mujur, setelah Sibolang dengan keberaniannya memohon pertolongan ke salah satu petugas itu untuk diperbolehkan naek kereta api gratis, ternyata mereka berhasil, pesan dari petugas ini, jangan duduk di gerbong, tetapi di lokomotif, setelah mereka berterimakasih, mereka menuju lokomotif dan Sibolang menyampaikan maksudnya kepada Masinis dan ternyata pintu lokomotif di bukakan tanda disetujui dengan pesan, sebelom kereta berangkat mereka harus jongkok/merunduk supaya tidak terlihat dari kantor kepala stasiun, suara pluit kereta api terdengar tanda kereta api akan berangkat.

Perasaan merekapun senang, sebab mereka berpikir masih dapat berjumpa dengan orang tua masing masing, tetapi apa mau di kata, ternyata setibanya di stasiun kereta api Gambir kira kira jam 4 sore, mereka terhenti oleh petugas pintu keluar yang menanyakan karcis penumpang kereta yang mereka tumpangi, memang karena mereka tidak punya karcis akhirnya mereka di hukum menyapu peron stasiun kereta sampai jam 6 sore. Selama mereka menyapu stasiun calon penumpang bertanya tanya tentang mereka, yang namanya bocah mereka cuek saja sampai hukuman selesai mereka jalankan. Hmmmmm …

Ternyata sekarang Sibolang sudah ngetrip kemana aja yang dia suka.

Cocoknya di panggil Sinakal ato bener bener Sibolang … 😁 …

Tq sahabat semua.

/* fb group poster start */ /* fb group poster end*/