Larung Gar – བླ་རུང་སྒར
Catatan Perjalanan #bdtibet

Menjadi salah seorang dari sedikit traveler dan fotografer yang berhasil memasuki dan bisa menjejakkan kaki di Lembah Larung, Garze Tibetan Prefecture, Sichuan – China untuk ketiga kalinya adalah sebuah pengalaman yang begitu bernilai dan tidak terlupakan. Ditemani secangkir Kopi Aroma di Sekretariat PAF, menulis penggalan catatan perjalan ini, kembali mengingatkan saya akan rasa kebersamaan dalam melalui berbagai pahit-getirnya perjuangan beserta teman-teman peserta Travelmate Photography Trip untuk berhasil memasuki area yang sedang dilanda konflik kepentingan politik antara “Beijing dan Tibet”.

Lembah Larung yang berada di ketinggian 4580mdpl sesuai catatan altimeter, dengan Biara Wuming dan ribuan pemukiman berwarna merah yang begitu ikonik, “mendadak” ditutup dan diubah statusnya menjadi salah satu tempat yang terlarang untuk wisatawan di China per bulan Juni 2016 sampai waktu yang tidak ditentukan. Alasannya? Klise! renovasi pemukiman yang sudah tidak layak. Dari sumber yang terpercaya, saya mendapatkan informasi jika pemerintah setempat berusaha “merelokasi” dengan menekan populasi para biarawan dan biarawati yang kini berjumlah 50.000 menjadi 5.000 orang saja. Ribuan rumah merah yang fotogenik bagi kami para fotografer dan traveler akan dihancurkan. Sayang saya tidak berani untuk memotret iring-iringan ratusan mobil militer yang sudah diberangkatkan dalam perjalanan pulang kami dari Larung.

Belajar dari pengalaman belasan tahun dan berkali-kali berkelana sebagai solo traveler dan fotografer mengunjungi berbagai area di China yang memiliki tendensi sensitif seperti Tibet dan Xinjiang Uyghur, segala-sesuatunya menjadi sulit diterka dan tidak pasti, karena suasana politik di Beijing sangat berpengaruh. Jika kita tidak memiliki channel di pemerintahan lokal yang tepat, kebijakan yang datang dari 4500km jauhnya dapat membuyarkan rencana perjalanan yang sudah matang sekalipun. Apapun permit yang kita miliki, tidak akan berpengaruh!

Dua hari sebelum keberangkatan trip bersama rekan-rekan Travelmate di tanggal 10 Juni 2016, informasi sudah banyak beredar dikalangan para travel organizer di beberapa media sosial yang mengabarkan bahwa Larung sudah ditutup. Gelisah dan cemas? Sudah pasti, tidak jadi soal kalau saya sedang traveling sendiri, tapi ketika bawa grup, menjadi persoalan yang bebeda tentu saja. Hingga kami tiba di Chengdu, belum ada rilis “official statement” dari China National Tourism Administration (CNTA) di Beijing yang membenarkan informasi tersebut.

Perjalanan darat yang melelahkan dari Garze menuju Larung sejauh 387km kami tempuh dalam waktu tujuh jam dengan melewati lima pos check-point militer untuk pemeriksaan dokumen wisatan dan kendaraan. Di pos pemeriksaan terakhir, 67km dari Biara Wuming, kami dilarang untuk memasuki kawasan Wuming dengan alasan pos tersebut sudah mendapat telepon dari Beijing yang menyatakan bahwa Larung telah menjadi area terlarang, yang telah diatur oleh perintah khusus. Kecemasan kami berubah jadi malapetaka. Negosiasi siang itu begitu alot, tapi militer yang menjaga tetap patuh dengan kebijakan yang datang dari 4500km jauhnya.

Satu-satunya yang saat ini membuat saya tidak putus asa adalah keberuntungan memiliki teman-teman peserta sangat kooperatif dan memberikan support yang luar biasa, walaupun tidak dapat disembunyikan ekspresi di wajah mereka rasa kesedihan akan kondisi ini. Di akhir kami memutuskan untuk memutar jalan sejauh 489km untuk mencoba masuk melewati pos check-point yang berbeda, diharapkan pengamanannya tidak ketat. Berubah destinasi, berarti berubah juga izin rute kendaraan dengan wisatawan. Dengan memanfaatkan track record selama berkali-kali mengunjungi area “bermasalah” di China, saya mencoba untuk meminta bantuan CNTA Provinsi Sichuan untuk menerbitkan permit wisatawan dan kendaraan yang baru untuk kami usahakan di pos pemeriksaan yang akan kami lewati.

Dari tempat kami berhenti, kita masih harus melakukan perjalanan 110km hingga mencapai pos pemeriksaan selanjutnya. Satu jam setengah yang sangat meneggangkan! Tidak jauh sebelum kami sampai, pihak CNTA memberi pesan singkat, “90% kemungkinan anda dan group bisa masuk Larung, tanpa kendala yang berarti, permit dan sebagainya akan dikirimkan secara digital”. Wow!! Akhirnya tanpa pemeriksaan yang bertele-tele, akhirnya kita dapat melanjutkan perjalanan yang masih panjang catatan melapor kepada pihak militer setempat sesampainya di Sertar untuk izin menginap.

Esoknya walaupun didera kelelahan dalam perjalanan belum lagi pikiran, akhirnya semua itu terbayar ketika betul kita dapat masuk dan tinggal disana selama dua malam, praktis kita menjadi satu-satunya grup fotografer dengan delapan orang Indonesia yang berani saya katakan termasuk sangat beruntung dapat menjadi sederetan dari sedikit orang-orang terakhir, yang dapat mengeksplorasi Larung dan Biara Wuming, belum lagi dapat menyaksikan secara langsung kengerian Ritual Thian Zeng (Sky Burial), pemakaman atas langit otentik Masyarakat Tibet serta bertemu dengan etnis Tibet yang jarang sekali dikunjungi.

Kita pulang tidak hanya mendapatkan karya foto yang baik, terlepas dari kuantitas yang terbatas, kita sepakat jika hasil itu semua semu jika dibandingkan pengalaman yang kami rasakan, inilah yang tidak ternilai. Berbagi pengalaman dari sepasang suami istri dari Perancis, fotografer freelance untuk media besar di Eropa yang setelah gagal berkali-kali memasuki Larung, nekad mencoba masuk Larung dengan cara jalan kaki masing-masing delapan dalam dua hari melewati pegunungan dan lembah, akhirnya mereka tertangkap oleh militer, diizinkan untuk tinggal tetapi seluruh perlatan kamera dengan handphone disita selama tinggal disana. Mereka berujar, “jika sudah posisi sulit seperti ini, dapat melihat Larung tanpa kamera pun sudah sebuah keajaiban”.

“Stuff your eyes with wonder, live as if you’d drop dead in ten seconds. See the world. It’s more fantastic than any dream made or paid for in factories.” – Ray Bradbury

Courtesy Reynold Riksa Dewantara

/* fb group poster start */ /* fb group poster end*/