MAE HONG SON LOOP

Provinsi Mae Hong Son berada di utara Thailand. Sebagian besar topografinya berupa pegunungan dan dataran tinggi, dilengkapi air terjun, gua kars, mata air panas, danau, kebun bunga dll… Kota-kota di provinsi ini juga bisa jadi alternatif untuk teman-teman yang mau mengunjungi Thailand tapi mencari suasana yang lebih tenang dan dingin. Bagian utara dan baratnya berbatasan langsung dengan Myanmar, oleh karena itu Mae Hong Son juga menjadi rumah bagi Hilltribes seperti Shan, Hmong, dan Karen.

Dengan kendaraan sendiri, kita lebih leluasa untuk menjelajah disini .โ€ฆsampai-sampai masuk area Myanmar ๐Ÿ˜. Tapi jangan khawatir, transportasi umum antar kota juga ada kok. Waktu terbaik untuk rute ini ada di bulan November ketika bunga-bunga bermekaran di kiri-kanan jalan (paling banyak mulai dari Khun Yuam sampai Pai), cuaca juga lebih bersahabat.

Walaupun namanya Mae Hong Son Loop, tapi rutenya dimulai dan berakhir di Chiang Mai. Bisa dilakukan searah jarum jam (ke Doi Inthanon/Mae Chaem) atau sebaliknya (ke Pai). Masih dalam rangkaian perjalanan Georney, saya dan R Bimo ambil rute yang pertama, karena kalau langsung ke Pai, jalanan relatif terus menanjak dan berkelok-kelok (they said there are 765 curves and hairpins), kami pikir lebih baik menanjak pelan-pelan supaya hari terakhir lebih santai meluncur turun. Untuk makanan bagi yang muslim sangat aman, di setiap kota ada masjid dan pastinya makanan halal.

SEWA MOTOR
Kami sampai di Chiang Mai bertepatan dengan Loi Krathong, 3 November 2017. Karena saat itu Chiang Mai sedang penuh turis, pilihan untuk sewa motor tidak terlalu banyak, kami menyewa Honda wave dari Bikky seharga THB 1500/minggu. Kalau mau one way di rute pendek (Chiang Mai โ€“ Pai) ada rental motor yang bisa memfasilitasi, jd motor tinggal di-drop di kota tujuan.
SIM Indonesia berlaku disana, kami dua kali terkena razia dan selalu dilepaskan (polisinya bilang karena sesama ASEAN dan sama-sama nyetir di lajur sebelah kiri), kalau nggak bawa SIM, bayar tilang THB 500 dan surat tilangnya berlaku untuk tiga hari.

CHIANG MAI โ€“ DOI INTHANON โ€“ MAE SARIANG (290 km)
Hari pertama, dari Chiang Mai kami langsung menuju Doi Inthanon, dan akan melanjutkan ke Mae Sariang. Tapi karena masuk Taman Nasional harus bayar THB 300/orang, kami hanya mampir di kuil depan pintu masuk, dan istirahat makan siang sebelum lanjut ke Mae Sariang. Penginapan banyak berjejer di pinggiran sungai Yuam. Nah kalau dari awal tidak berniat ke Doi Inthanon, dari Chiang Mai bisa ke arah Mae Chaem. Jalanannya relatif mulus, hanya 15 km sebelum Mae Sariang tersendat karena sedang ada pengaspalan. Mae Sariang berada di dekat Salawin National Park, kotanya tidak besar, hanya butuh waktu sebentar untuk dikelilingi, rata-rata yang mampir kesini hanya singgah sebelum ke kota Mae Hong Son.

MAE SARIANG โ€“ BAN HUAI HOM (60 km)
Ban Huai Hom merupakan rumah bagi suku etnik Pakakayor, suku ini dikenal dengan produksi kopi dan tenunan wool. Awalnya desa ini sama sekali tidak ada dalam rute kami, ketika menuju kota Mae Hong Son kami asal saja berbelok ke timur karena melihat tulisan Hilltribe Village dan berniat singgah sebentar. Begitu sampai, suhu yang dingin dan kopi yang enak malah membuat kami betah berlama-lama di sana. Kebetulan di sana ada guesthouse yang dikelola langsung oleh keluarga kepala desa (btw kepala desanya Wanita lho..). Si ibu kepala desa bisa berbahasa inggris dan banyak berkisah tentang desa mereka dan desa-desa di sebelahnya. Jaman dulu, waktu daerah ini belum tersentuh oleh listrik dan pembangunan, bukan kopi yang ditanam, tapi opium.

BAN HUAI HOM โ€“ MAE HONG SON (165 KM)
Hari ini kami bertekad harus sampai kota Mae Hong Son. Dengan jarak yang โ€˜hanyaโ€™ 165 km dan jalanan yang mulus, seharusnya kami bisa sampai dalam waktu 2.5-3 jam. Tapi setelah dua hari, kami sadar rute ini terlalu banyak godaan untuk mampir-mampir di sepanjang jalan. Dan kali ini, godaan pertama datang dari aroma kopi dari coffeeshop di pinggir sawah. Setelah ngopi, cek googlemap ternyata di dekat sana ada mata air panas (Nong Heang Hotspring). Tempatnya agak masuk dari jalan utama, ada tiket masuk untuk memakai kolam renang dan private bathroom, tapi kalau hanya ingin celup-celup kaki di air panas sih tidak perlu bayar. Godaan berikutnya adalah air terjun Mae Surin, sebelumnya kami dapat info kalau bunga-bunga mulai bermekaran di sepanjang jalan menuju air terjun. Tapi baru setengah jalan kami berputar balik, karena kalau diteruskan kami bakal keburu gelap, dan kami masih harus mencari penginapan di Mae Hong Son. Pusat dari penginapan dan night market ada di sekitar Danau Chong Kham (Masjid Nuruth Taqwa dan restoran halal berjarak 1,5 km dari danau).

DAY TRIP MAE HONG SON
Terlalu banyak tempat menarik di sekitar kota Mae Hong Son. Sebagai orang yang kurang suka keramaian, Mae Hong Son resmi jadi tempat favorit saya di Thailand. Lokasi-lokasi yang kami datangi adalah: (1) Su Tong Pae Bridge, jembatan dari bambu ini dibangun untuk menghubungkan Ban Gung Mai Sak dan Wat Tham Poo Sa Ma, kondisi jembatannya sudah mulai lapuk, tapi viewnya cakep banget. (2) Pha Suea Waterfall, lokasinya persis dipinggir jalan dan gratis. (3) Ban Rak Thai (Chinese Village/tea Village), desa ini dikelilingi kebun teh dan memiliki danau di tengahnya, dihuni oleh keturunan tentara Kuomintang yang melarikan diri dari China, dikenal dengan produksi teh dan wine. (4) Ban Ruam Thai (Shan Village/ coffee village) memiliki danau yang nggak kalah cantik, tapi desa ini terkenal dengan kopinya, penduduknya berasal dari suku etnik Shan, Myanmar. Yang tidak diduga, kami sempat nyebrang ke Myanmar dari Ban Rak Thai (keterangan lengkap ada di foto ya). Di kota ini juga ada desa tempat tinggal suku long neck Karen, tapi kami nggak kesana.

MAE HONG SON โ€“ PAI ( 110 KM)
Jalur ini mulai berbahaya bagi pengendara. Tanjakannya terjal dan berliku tajam. Banyak pengendara yang terlena untuk ngebut karena jalannya lebar dan mulus, sepanjang jalan kami 3x berjumpa dengan mobil yang terbalik, semuanya single accident. Walau agak berbahaya, sepanjang jalan menuju Pai banyak ditumbuhi bunga berwarna kuning, cantik sekali. Awalnya kami ingin mampir ke Tham Lod/ Lod cave, gua ini terkenal karena dijelajahi dengan rakit bambu. Udah mupeng berat karena lihat review di google, tapi waktu kami sampai sedang hujan deras, karena soal keamanan kami tidak ingin mengambil resiko masuk ke gua berair ketika sedang hujan.
Dari semua kota di provinsi Mae Hong Son, Pai yang paling dipenuhi turis asing, kebanyakan mereka langsung kesini dari Chiang Mai. Walau penginapan, pertokoan dan restoran memenuhi Pai, entah bagaimana suasana kota tetap tenang dan santai. Night Marketnya juga jadi night market favorit saya se-Thailand, ramai tapi tidak riuh, hanya musik-musik akustik yang diputar, jd tidak berisik adu musik jedag jedug, makanan halal banyak ditemukan disini, karena masjid dan komunitas muslim ada di area night market, umumnya mereka berasal dari Yunnan, jadi yang dijual semacam noodle salad atau dumpling soup.

PAI โ€“ CHIANG MAI (150 KM)
Menuju Chiang Mai, banyak tempat dan view point yang bisa dimampiri, seperti Pai Canyon, Japanese Bridge, beberapa air terjun dan mata air panas. Menurut saya tikungannya lebih sedikit dibanding Mae Hong Son โ€“ Pai, tapi lebih rapat dan lebih tajam dan curam , tidak usah terburu-buru yang penting aman dan selamat.
Sayangnya kami harus segera ke Bangkok, mungkin kalau ditambah 3-4 hari lagi, bisa lebih menikmati perjalanan ini.

#BIThailand #BIMaeHongSon #BIPai #BIBikepacker #BITouring

/* fb group poster start */ /* fb group poster end*/