Makanan Haram di Jepang

Ini informasi bagi umat Islam yang ingin secara ketat berpegang pada syariat Islam saat berkunjung ke Jepang. Secara umum bisa saya katakan bahwa hampir semua makanan yang dijual di toko-toko di Jepang itu haram. Lho, bukankah katanya sekarang sudah banyak restoran halal? Ya, ada. Banyak di situ jangan dianggap banyak banget. Jarak antara satu restoran ke restoran lain bisa sangat jauh. Kalau bergantung pada restoran halal saja, Anda tidak bisa jalan ke mana-mana.

Yang sudah jelas, semua jenis makanan yang memakai daging, itu pasti haram, karena hewannya tidak disembelih secara Islam. Jadi, jangan dengan culun menganggap ABB alias asal bukan babi lantas halal.

Aku nggak makan daging kok, pesen ikan aja. Itu juga risikonya masih 80% haram. Hampir semua jenis masakan yang memakai kuah di Jepang memakai mirin. Mirin itu sake. Yang digoreng seperti katsu, ada kemungkinan memakai lard atau lemak babi. Takoyaki itu pakai lemak babi untuk olesan pada cetaknya.

OK, makan sushi dan sashimi saja. Itu pun belum tentu aman. Daging ikannya sendiri aman. Tapi sushi itu pada nasinya juga dicampur mirin. Lalu shoyu, kecap asin itu juga mengandung shusei, sejenis sake.

Bagaimana dengan onigiri? Onigiri yang dijual di convenient store biasanya mengandung gelatin babi. Nasinya juga besar kemungkinan dicampur dengan mirin.

Kalau roti? Roti berpotensi mengandung lard dan lecitin. Yang terakhir itu bahan pengental, sebagian terbuat dari kedele, tapi ada juga yang berasal dari lemak hewan.

Soba dan udon, biasanya pakai sake dan mirin juga untuk campuran kuahnya. Demikian pula, pada shoyu yang dipakai terkandung shusei atau sake tadi. Sop miso juga sama saja.

Kalau mau 100% aman, bawa rice cooker, masak nasi sendiri, bekal rendang atau sambel teri. Kalau perlu sekalian bawa pete dan jengkol.

Sumber: Kang H Idea

/* fb group poster start */ /* fb group poster end*/