Malam pertama sampai Kolkata India, diturunin supir taxi di depan hotel, saya bengong lalu nanya :
“Is this the hotel?”
Si bapak supir taxi menggelang-gelengkan kepalanya.
“Then why are you stopping?”
Lagi si bapak geleng-geleng sambil bilang, “Yes, this is the hotel”.
————
Waktu itu kami duduk di bangku taman, suami pengen beli kopi lalu ijin minta pergi bentar. Duduk lah saya sendirian. Tapi disamping saya ada bapak bapak kumisan perlahan duduk di sisi bangku lain. Saya kurang nyadar. Tapi kayaknya bapak itu perlahan mendekat, makin dekat, makin dekat lagi. Cekrek! Doi ternyata ambil selfie tanpa sepengetahuan saya.
Eh pas suami datang doipun beranjak pergi.
————
Di Pondicherry kami kenalan dengan banyak orang lokal. Pria dari berbagai golongan usia, saya sangat terkesan kalo orang India itu dari kecil minimal tahu 3 bahasa setidaknya Hindi, bahasa lokal, Inggis, bahkan Perancis, Italia, Portugis dll. Sepertinya mereka tidak terlalu mengalami kesulitan jika belajar bahasa asing. Saya juga berkesempatan berkenalan dengan salah satu yang ikut bikin film Life of Pi.
Saat itu kami ingin berenang ke pantai, saya bilang tak mau pakai bikini karena pasti akan mengganggu orang lokal yang melihat. Tapi salah satu kenalan kami namanya Jay bilang. “No, no, no, there is no problem on wearing bikini here”. Tapi dia ngomongnya pakai berhenti bentar, matanya menerawang, sambil nelen ludah.
Saya bilang ke dia:
“Hey Jay, let’s forget about bikini!”
————
Di Agra waktu itu kami kelaparan banget, kira-kira jam 3 sore kami masuk ke restoran.
“Can we have the menu?”
Waiter : “Yes” tentunya sambil menggeleng, di dadanya tertulis namanya Manu.
Kami memilih makanan.
Kami : “One tandoori chicken”
Waiter : “No, we don’t have it now”
Kami : “Ok then, what about chicken biryani?”
Waiter : ” We also don’t have it now”
Kami : “Butter chicken?”
Waiter : “No”
Kami : “So what do you have?”
Waiter : “We closed”
πŸ˜ͺ
Kami : “Then why didn’t you tell us since earlier?”
Waiter : “I’m sorry we are only open on lunch time and open again on dinner time. But there is a restaurant open right there, walkable 3 minutes from here, you can come there”
Si Waiter menunjukkan arah.
Kamipun pergi ke restoran yang ditunjuk.

Di restoran baru itu kami masuk dan minta menu. Seorang waiter datang dengan seragam dan namanya di dada bertuliskan Manu.
Saya sadar itu waiter yang tadi.
“It’s you again!”
Waiter : “Yes I work in two restaurants”
Kami cek menu ternyata semua makanan 2x lipat dari restoran sebelah.
“This is bullshit”
Suami saya banting menu saking kesalnya dan hangry. Kami pun pergi.
————
Di kereta api waktu itu pagi baru bangun. Biasanya ada dagang menawarkan chai (teh berbumbu isi susu) pada orang dalam kereta api. Seorang pria pedagang chai lewat depan suami saya lalu mencubit pipi suami saya yang tembem sambil bilang “ohhh so cute”.
Suami saya cuma bilang “Awww”.
Bentarannya lagi eh si bapak penjual chai lewat lagi dan cubit bahkan narik pipinya lagi.
Kali ini suami saya bilang awwwwwwww nya lebih keras.
Eh bentaranya lagi bapak itu lewat dan mau nyubit.
Suami saya bilang “STOP IT!”
Si bapak pun tak melanjutkan cubit pipi lagi dan lanjut menawarkan dagangan ke orang-orang “Chai… Chai…”.
————
Sebenernya masih banyak cerita menarik soal India, kadang kalo ditulis panjangnya minta ampun. Tak ada tempat lain seperti India ya nyebelin tapi ya ngangenin. Mungkin saya tipe yang punya love and hate relationship about India.

Incredible India. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Tentunya suatu hari saya akan balik lagi kesana. Hahahahhahahahahahahahaha

#BIIndia #BIIntenutari

/* fb group poster start */ /* fb group poster end*/