Manila, Philippine 4D/3N 2,5 juta Rupiah

Seperti apa sih Manila?
Itu yang ada di benak saya ketika memutuskan ingin mengunjungi Filipina. Sebelumnya pernah menginjakkan kaki disana tapi hanya sekedar transit beberapa jam waktu mau liburan ke Beijing. Dari beberapa teman Filipina, mereka memberi masukan lebih baik ke Boracay, Palawan atau tujuan pariwisata kepulauan lainnya. Tapi untuk awalnya saya memutuskan untuk mengenal ibukotanya terlebih dahulu.
Berawal dari mendapatkan tiket harga 0 dari maskapai Cebu yang saat itu sedang gencar2 nya promosi di Indonesia karena membuka kantor cabang perdana di Jakarta, saya semangat mencari info seputar Manila yg waktu itu menjadi tujuan saya. Sempat jiper juga waktu mau berangkat karena beda dengan Singapura dan Malaysia, agak sulit mendapatkan informasi seputar Filipina, untungnya punya beberapa teman Filipina yg walaupun tinggal di beberapa kota yg berbeda namun cukup membantu.
2,5 juta selama 4 hari 3 malam itu termasuk pesawat pp, airport tax, hotel, transportasi dan masuk ke beberapa tempat wisata.
Seingat saya kalau tidak salah perjalanan ditempuh selama 5 jam. Dan yg menyenangkan saat penerbangan ke dan dari Manila saya hanya duduk sendiri dari 3 tempat duduk yg ada, jadilah saya tiduran selonjor saat pergi dan pulang hhhh. Selama penerbangan pergi dan pulang, pesawat selalu goncang, dari teman2 Filipina saya kata mereka Filipina memang gudangnya badai, minimal sebulan sekali pasti ada badai. Tapi saya tidak tau dengan pengalaman2 teman2 lain yg sudah pernah ke Filipina, apakah memiliki pengalaman yg sama saat terbang atau tidak.
Tiba di bandara setempat, saya menggunakan bus umum untuk menuju pusat kota, letak busnya berada di seberang terminal kedatangan. Tinggal jalan kaki ke arah seberang. Saya lupa berapa peso tapi murah kok. Oya sebelum keluar bandara kalau niat naik bus, jangan lupa tukar uang receh ya.
Bus yg saya tumpangi lebih besar dari metromini dan cukup bersih, kondektur akan keliling meminta uang dan memberikan tiket bus. Bus ini berhenti di terminal EDSA, Pasay City. Saya kembali ke bandara juga naik bus yang sama dari terminal ini. Terminal EDSA merupakan terminal besar, hampir seluruh bis lewat/ke terminal ini baik dalam maupun luar kota. Jeepney pun (angkotnya Filipina) dari berbagai jurusan lalu lalang di depan terminal. Tidak jauh dari terminal bus EDSA terletak kereta dalam kota yg siap nganter ke berbagai penjuru Manila, tinggal naik jembatan penyebrangan yg nyambung dengan terminal bus sudah sampai di station kereta EDSA, tarif keretanya juga murah, cuma kalo naiknya jam pergi dan pulang kerja, hadeeeeuuuhhh ga tahan ngantrinya, bisa puluhan meter. Dalam kereta sebenernya nyaman, adem dan bersih, cuma kl lg penuh, ACnya kalah. Oya bawa kipas dan payung, Manila kurang lebih sama dgn Jakarta, panas dan sering hujan.
Saya memilih hotel yg tidak jauh dari terminal bus dan statiun kereta, jadi biar gampang kalo mau kemana-mana. Kebetulan hotel yg saya tempati sdg memberikan diskon besar untuk kamar di ruangan yg baru direnovasi, lengkap deh kebahagiaan ini.
Karena saat saya tiba hari sudah sore, saya lebih memilih tidur di hotel dan baru keliling-keliling esok hari. Malam hari sempat keluar sebentar cari makan dan memperhatikan lalu lintas serta rute jeepney, biar ga kesasar kalo mau jalan2 besoknya hehe. Saya makan malam di Jolibee semacam KFC, seingat saya di jakarta pernah ada jolibee tp ga laku dan tutup. Tradisi orang Filipina adalah selalu menggunakan garpu sendok kalo makan bahkan di KFC sekalipun, kalo pake tangan tidak sopan. Untuk harga kurang lebih sama dengan Jakarta cuma bagi non muslim agak sulit cari makanan halal. Di hotel sayapun breakfastnya bertabur miss piggy hhhhh.
Hari kedua perjalanan saya mulai siang hari, karena dari pagi hujan deres banget, walau bawa payung tetep aja males jalan.
Saya keliling naik kereta, ke Rizal park dan ke Ocean park yg ada di sebrangnya. Di Rizal park ini ada tugu Km 0, ada danau kecil yg ada air mancur menari tiap jamnya dan ada musuem taman di dalam. Cukup luas juga.
Sore sampai malam saya habiskan di MOA (Mall of Asia – Mall terbesar di Asia Tenggara). Di MOA banyak sekali resto/cafe, mungkin kalo nyari yg halal ada. Ada beberapa makanan khas Filipina dijual disini. Dibelakang MOA ada flyer dan laut, ada taman juga sepanjang trotoar, kalo malam minggu banyak anak muda yg ngumpul disitu.
Keesokannya saya menjelajahi Intramuros. Intramuros merupakan benteng. Didalamnya ada penjara bawah tanah tempat penyiksaan tawanan perang jaman dulu, banyak yg mati disitu, serem juga. Tidak jauh dari situ mata disejukkan oleh pemandangan sungai dan gedung-gedung kota. Kalau mau bisa keliling sungai dengan perahu, ada jam dan tarifnya tapi waktu itu saya tidak mencoba.
Perjalanan saya lanjutkan ke katedral manila, sayang sekali waktu itu tutup karena sedang renovasi jadi tidak bisa masuk. Waktu itu ada panah kecil dan pemberitauan bahwa ibadah dialihkan ke St. Augustin. Karena waktu itu saya belum ada rencana lain dan tidak mengira katedral ditutup, saya mengikuti arah panah tersebut yg membawa saya ke St. Augustin, dalam hati saya mungkin semacam kapel pengganti tempat ibadah di gereja sementara. Ternyata oh ternyata wooooowwww, St. Augustin juga merupakan suatu gereja yg bahkan merupakan salah satu gereja tertua yg telah berusia ratusan tahun. Kok saya tidak dapat info ini sebelumnya ya. Di dalamnya juga terdapat museum yg isinya juga peninggalan2 yg telah berusia ratusan tahun. Saya sempat berselfie dan mengabil puluhan foto dari mulai interior gedung yg luar biasa sampai barang2 peninggalan di dalamnya. Sampai di satu lorong ketika sedang mengambil gambar, seorang sekuriti mendekati saya dan menegur dgn sopan bhw tidak diperbolehkan mengambil foto. Dia menanyakan saya dari mana, dia kira saya orang Filipina hhhh. Untungnya kamera saya tidak disita dan saya tidak diminta menghapus foto2 yg sudah saya ambil. Selamet . . .selamet . . .loool.
Tidak banyak yg dilihat di Manila, sama seperti Jakarta kurang lebih keadaannya. Ada toy museum keren banget tp sayang sedang tutup waktu saya berkunjung. Ke istana malacanang pun harus dgn ijin.
Yang saya takutkan waktu awal tidak terjadi. Selama di Manila saya tidak memiliki pengalaman buruk. Hampir semua masyarakat bisa berbahasa inggris. Naik Jeepney hampir sama dengan angkot di jakarta. Yg membedakan adalah tempat duduknya yg berhadapan, dan kalo dapat tempat duduk diujung dekat pintu keluar dan mau bayar ongkos ke supir, kasih ke orang disebelahnya, nanti akan terus dioper sampai ke supir, begitu juga kl ada kembalian, akan dioper dari supir sampai ke orang yg punya kembalian. Saat saya berkunjung ke manila, ongkos jeepney jauh 7 peso dekat 5 peso.
Sekian dulu cerita perjalanan saya kali ini. Mudah2an bisa membantu bagi teman2 yg ingin berkunjung ke manila.
Sampai ketemu di pengalaman saya berikutnya 🙂 .

#BIPHILIPINES #BIMANILA

/* fb group poster start */ /* fb group poster end*/