Mari kita membahas India.

Tulisan ini akan sangat panjang (sekitar 30 menit membaca), tapi mohon dibaca secara keseluruhan supaya tidak hanya menimbulkan pendapat negatif saja. Mungkin akan ada ketersinggungan ditimbulkan atas tulisan ini. Tapi mohon maaf sebelumnya, semua merupakan opini sepihak atas pengamatan saya seorang atas apa yang saya dapatkan dari perjalanan ke India. Segala yang saya tuangkan berupa pengalaman negatif juga positif.
Tapi kalo seandainya males bacanya dan sangat ngebosenin saya tidak akan memaksa.😁

Jika kita membahas pengalaman soal pernah berkunjung ke India bisa jadi akan begini :

* Saya benci India
* Saya suka India, atau
* I have a love and hate relationship about India

India, negara yang amat luas dengan kondisi masyarakat yang sangat kompleks.
Hanya mendengar cerita soal India itu ga akan cukup sebelum benar benar berkunjung.
Karena mata kita ga akan ngelihat langsung kayak apa India yang sesungguhnya. Bukan, jangan bayangin kayak pilem Bolliwood, lebih tepatnya pilem Slumdog Millionair!
Soal baunya yang ciri khas, ah langsung saja sebenernya bauuuuuukkkkkk banget. Ah pokoknya bauuuukkkkk. Bau apa? Ya ketek, ya eek, ya pesing kencing di jalan, sampah, oh tapi tentu bau rempah juga, curry, bunga bunga dimana mana, eits pernah salah mikir, maunya ke pasar bunga biar dapat bau wangi eh malah ke pasar bunga dapatnya bau busuk.
Ribut! Super ribut, ga ada kota seribut Kolkata. Kalo di Saigon mungkin kita bisa denger suara orang bawa motor ributnya tut tut…. tut tut ga berhenti henti. Nah kalo di India naik bis suara belnya itu panjangnya sepanjang durasi lagu, “tuuuuuuuttttttt tulalituuuuttttttttttttttttt mpreuttttttttottttulalituuuuuuutttttttttttttt tuut tut preng tituuuuuttt tut”. Bayangkan ada seratus bis melakukan hal yang sama dalam kemacetan jalan atau kamu sendiri berada dalam bis itu!
Serius di Kolkata saya pernah jalan kaki terjebak macet, mau nyebrang ga bisa, berusaha cari minimart mau beli air sama sekali ga ada pedagang air, kecape’an, tapi yang terdengar suara-suara bel bis, truck, mobil, motor, auto rickshaw (bajaj) dan ga habis-habis. Karena frustrasi saya teriak sekencang kencangnya, sampai berjongkok dan nangis kayak kesurupan sambil memencet kedua telinga dengan tangan, berharap ini hanya mimpi buruk dan saya bangun, segera bangun dari mimpi ini. But it was a real life and I was in Kolkata.

Tak ada siapapun yang mendengarkannya dan ada yang peduli.
Teriakan keras saya terdengar nothing dibanding suara bel kendaraan di jalanan.

Tatapan mata dari orang-orang.
Saya ga terbiasa dengan itu semua, di jalanan entah mengapa 95% hanya laki laki saja. Tatapan mata terasa sangat menusuk memandang saya tiada henti. Seperti ga ada jarak dengan orang lain. Tumben seumur hidup saya merasa dilihatin kayak gitu. Herannya kemana perempuan India? Dimana mereka kok ga ada di jalan? Ada sih tapi dikit banget, mungkin diantara 100 laki laki ya cuma 5 perempuan lewat. Kalau ada perempuan biasanya bergerombol bersama keluarganya. Sepertinya menjadi perempuan berjalan sendiri ga ngenakin.
Warung makan, toko, petugas kebersihan sepertinya semua laki-laki, bahkan salon potong rambutnya pun laki-laki. Segala sektor pekerjaan seperti minim sentuhan perempuannya. Bagi saya membuat semua terlihat kurang bersih dan detail oleh karena tak ada peran serta perempuannya.

Waktu itu saya menginap di sebuah hostel yang saya ga nyangka bakalan sejorok itu, temboknya seperti bekas ludahan orang yang nginang gambir, warnanya oranye kecoklatan. Sangat lembab dan berjamuran. Rasanya tidur di kasurnya saya merasa jijik, saya ketemu gumpalan rambut di balik selimut, mandipun rasanya tak bersih. Saya ga mau menyentuh apapun dengan tangan saya. Saya merasa tidak ada tempat untuk lari dari kegaduhan kota. Mungkin saya harus cari hostel yang lebih mahal. Dapatlah saya hotel lain yang lebih layak senilai $40. Value untuk hotel senilai $40 bukanlah value yang baik jika dibandingkan dengan South East Asia, cukup memadai dan bersih saja saya lega.

Dalam hotel sedikit merasa lega karena terhindar dari segala hiruk pikuk. Namun begitu akan membuka pintu hotel. Seperti siap siap kayak gini. Pegang gagang pintu. Hitung 1, 2, 3, buka pintu…. INDIA…..
(Bau, ribut, tatapan tajam kembali menusuk saya ke ubun-ubun).

2 hari di Kolkata saya rasanya lama bukan main dan saya ingin pergi ke Varanasi melanjutkan perjalanan. Saya yakin akan lebih indah di Varanasi.
Perjalanan ke Varanasi diawali dengan berangkat stasiun kereta api. Kebiasaan meludah sembarangan di jalan makin banyak saya temui. Perkenalan terhadap toilet umum dalam stasium kereta adalah hal yang ga akan saya lupakan seumur hidup saya. Saya masuk kayak ditonjok sama bau pesing dan bau eek. Tapi saya mau pipis, mau diapain saya harus masuk. Saya ketemu eek berserakan dimana mana. Saya teriakkkkkkkk…. nutup hidung dan geleng geleng. Ibu di sebelah yang daritadinya masih di toilet keheranan melihat saya, saya bilang “there’s poop in there, and my goodness the smell…”
Ekspresi si ibu hanya mengernyitkan dahi, heran melihat ekspresi saya, sepertinya sama sekali ga heran dengan kehadiran seongok eek dan bau toiletnya, sepertinya dia nyaman-nyaman saja.

Derita belum berakhir sampai disini, masih ada train menuju Varanasi. Trainnya baik baik saja, tapi toiletnya benar-benar luar biasa, saya tidak bisa menghindar dari bau pesing menyengat lagi dan bekas eek berserakan dan menempel dimana-mana.
Coba perhatikan jika saat pagi train melintas, di sepanjang area rel kereta sudah banyak pria berjongkok membuang hajat rame-rame. Apa ga ada toilet ya? Nah terus perempuannya kalo mau berak kemana?
Kabarnya India adalah negara yang penduduknya buang hajat di ruang terbuka terbesar (490juta, hampir setengah jumlah penduduknya) dan kamu akan terkejut ternyata nomor 2 terbesar itu adalah Indonesia (54juta).
Bagi perempuan India yang tak memiliki toilet mereka harus buang air dalam keadaan gelap dan banyak yang mengalami pelecehan seksual saat itu. Hidup mereka sangat terasa berat.

Nah kemudian kalo saya mencela mereka buang hajat di luar apakah saya pantas? Mungkin saya hanya bisa mengeluh, tapi keadaan saya dan mereka tidaklah sama. Hidup mereka pasti lebih susah dari saya.

Ya di sepanjang rel kereta api, berusaha hindari melihatnya, plis jangan ngelihat rel keret api, nyesel nanti, karena banyak bekas pembuangan dari toilet seluruh kereta jatuhnya kesana.

Setibanya di Varanasi, Sungai Gangga, apa yang saya pikirkan ternyata salah. Menuju hotel saya sudah mengalami keribetan berpikir orang-orang disana. Hotel yang saya booking bukan di lokasi yang saya mau, tidak juga sesuai gambar. Mereka dengan tricky menjemput kami di stasiun dan menempatkan kami di suatu hotel lain di luar sana. Saat cek di map jauh banget. Saya komplin dan nuntut supaya dipindahin ke tempat yang saya mau. Mereka berusaha mempersulit dengan cara apapun supaya saya sebagai kostumer tidak lari dan uang yang sudah mereka dapatkan tidak hilang. Mereka tidak peduli saya gelisah, marah dan kecewa atas pelayanan mereka. Mereka berusaha bertahan agar saya tetap tinggal. Dengan perdebatan panjang bin stressful kamipun pergi dan mencari hotel baru di dekat sungai Gangga.

Mungkin di pinggir sungai gangga kita bisa melihat keindahan foto cantik yang menawan, tapi apa yang terjadi di gang gang sempit menuju sungai, perlu keahlian khusus untuk tidak menginjak tai sapi yang bersarakan, belum lagi bekas tai yang terseret roda rickshaw yang menyebar kemana mana. Seluruh gang sepertinya terseka kotoran dan banyak sampah.

Seumur hidup saya sudah biasa dengan tradisi bakar mayat. Namun bagi sebagian orang mungkin harus lebih waspada jika melintas di gang karena bisa saja ada mayat yang sedang dikirim untuk kremasi.
Disinilah kita bisa melihat keunikan dari sungai Gangga itu, mungkin ada rasa seram melihatnya, tapi ada budaya luar biasa yang telah berlangsung berabad-abad disana. Mayat dibungkus kain putih diletakkan dalam tandu, lalu diusung oleh beberapa pria dengan yell yell tentang kematian, berlangsung sepanjang hari setiap hari sampai ratusan mayat untuk dibawa ke pinggir sungai kemudian dibakar.
Namun jika seseorang mati hamil, mati tergigit ular, bayi, tidak akan dibakar, melainkan ditenggelamkan dengan sepuhun buah pisang agar mayat mau tenggelam, karena mereka telah mati suci.
Bagi sebagian orang mungkin ke Sungai Gangga akan nyebur, cuci muka atau meminum airnya. Tapi perasaan logis saya bilang enggak. Ya banyak saya lihat orang-orang melakukan wisata relegi kesana, termasuk teman-teman saya. Saya tidak bisa menjudge apa-apa, karena itu adalah pilihan spiritual mereka, ketika mereka bahagia melakukan itu sepertinya tidak masalah.

India itu indah. Tentu saja. Mengarungi sungai Gangga di pagi hari sambil mendengar si Bapak yang mendayung sambil menyanyi sangat syahdu. Suara itu sangat merdu.
Ketika petang tiba, tiap harinya akan ada puja beramai-ramai dipimpin Bramin dangan api, lilin, lagu dan musik spiritual. Sangat unik.

Perjalanan kami di India berakhir dan kami melanjutkan perjalanan lewat darat melalui Lumbini, Nepal. As soon as we arrived at the border of Nepal, segala seuatu langsung drop. Tak ada lagi bau, ribut, tatapan tajam pada saya. Semua terasa lega dan kembali normal. Saya merasa seolah keluar dari mimpi yang amat buruk.
Haaaaaaahhhh…… rasanya kembali terbebas dari stress yang luar biasa menekan.

Namun seketika itu juga kami berpikir, benarkah kami sudah melalui tempat itu? India. Jadi kami bertahan disana selama 6 hari?
Kami tahu sesungguhnya 6 hari dengan kondisi India yang sangat besar bukanlah hal yang bijak menilai apa itu India.
Kami memutuskan suatu hari harus kembali lagi ke India. Melihat lebih jauh dan lebih dalam lagi. 😁

Tahun berikutnya. Kami memang pasangan suami istri bandel. Kami memilih eksplor India lebih banyak lagi. Ada beberapa kota yang dikunjungi seperti Pondicherry. Disini tempat syuting film Life of Pi, salah satu wilayah India yang kecil, dulunya dijajah Perancis. Masih banyak orang-orang mampu berbahasa Perancis, dibanding daerah lain India yang berbahasa Inggris. Perjalanan berlanjut ke Munar, kebun teh yang sangat cantik. Beberapa kota kami lalui seperti Madurai Temple.
Di Verkala, sebuah kota pantai di selatan adalah satu-satunya pantai di India dimana saya bisa menggunakan bikini tanpa ada tatapan tajam dari pria lokal. Pindah satu kota ke kota lain seperti melihat negara baru. Kami juga mengunjungi Alapey, naik boat rumah selama 2 hari untuk relax di dalam sana. Di Kerala saya melihat tarian yang sangat teatrikal namanya Kathakali. Menyaksikan long march partai komunis yang sangat besar. Makanan mulai beragam, tidak hanya curry tapi ada ciri makanan khas Selatan. Disini tampak ada keseimbangan perempuan di muka umum. Kunjungan kali ini ke India di bagian selatan terasa sangat santai dan damai. Saya mulai menyukai India.
Rumah- rumah di daerah selatan terlihat sejahtera dan ruang tanahnya banyak. Tentu saja makin ke bagian utara, makin saya lihat banyak keluarga tidur di trotoar jalan, masih ada orang yang rumahnya hanya sebesar satu orang tidur dan saat tidur kakinya kelihatan dari jalan.
Ada masih banyak cerita sedih pula soal India. Ketika kami melihat banyak orang kurus kelaparan, di sebelah restoran ada sekumpulan keluarga berbadan gemuk makan dengan lahap, berbaju bagus tanpa cela, mobilnya mentereng. Dua kondisi berbeda yang sangat ektrem saya saksikan. Tapi di benak saya terpikir, bukankah itu terjadi pula di negeri saya? Ya di negeri saya yang miskin itu ada ketimpangan yang sama juga terjadi. Kadang ngenesnya India itu keterlaluan, di jalanan banyak orang tua gemetar tidur dengan selimut, sementara orang orang berlalu lalang melangkahinya. Mengapa? Apa ga ada yang sedih lagi melihat itu? Tidak lagi, karena terlalu banyak ada orang tidur dijalan gemetar hanya bertutup selimut tipis. Rasa iba sudah tak ada lagi karena ada terlalu banyak.

Di Mumbai pun ada tour yang menyediakan pelayanan kita mengunjungi slum/lokasi perkampungan kumuh, namanya Dharavi Slum, merupakan slum terluas di dunia. Awalnya siapapun berpikiran negatif soal slum tersebut. Sangat ramai, padat penuh namun minim MCK. Ya kembali kita berurusan melihat kotoran. Tapi apa yang saya lihat disana, penduduk di dalamnya pekerja handal dan giat, mereka memilih tinggal disana untuk menghemat waktu transport dan menghindari macet. Segala macam barang bekas plastik, baja, karet, besi, ban, sabun, olahan kulit diproses dari seluruh India disana. Bahkan banyak dihasilkan barang barang branded di slum tersebut. Orang-orang yang tinggal di dalamnya bukan pemalas, tapi wirausahawan dan pekerja giat yang bertahan hidup. Sementara di Mumbai ada slum terluas di dunia, di kota yang sama berdiri sebuah rumah yang paling mahal didunia ke-2 setelah istana Buckingham, namanya Antilia. Ketimpangan yang luar biasa.

Perjalanan kali ini di India pun lebih banyak tantangan. Membeli kartu SIM adalah hal yang susah. Tiap kota masih memberlakukan roaming lokal. Untuk membeli kartu baru kita perlu nomor India atau perlu referensi orang lokal. Tidak ada seorang warga lokalpun yang mau membantu menjadi “teman palsu” kalau kamu ingin mebeli kartu SIM. Seolah mustahil di India bisa nelpon dan punya paket data bagi turis asing. Kesulitan yang terjadi oleh karena sistem yang dibentuk mengakibatkan ketidakmajuan.

Tiap kali berganti hotel adalah sebuah keharusan kami menulis dalam sebuah buku tebal berisi info sedetail-detailnya dari kota kami berangkat sebelumnya, hotel apa kami inapi sebelumnya, nomor paspor, nomor visa, bahkan mereka pernah permasalahkan visa kita tercoret pulpen oleh petugas imigrasi, mereka cek sedetai dan sesulit yang mereka bisa untuk hal yang sia-sia. Terlalu banyak data yang overloaded. Dan ya di resepsionis kadang kami disuruh foto smug face tampak depan dan tampak samping. WTF? Foto ini mau dipakai pajangan kalo seandainya kami nyuri handuk gitu?
Setiap langkah perjalanan di India makin hari seperti makin menggerogoti dan menguji kesabaran kami.

Kami waktu itu merayakan pergantian akhir tahun di Kota Kochi menonton pertunjukan. Suami memeluk saya dari belakang untuk melindungi karena terlalu banyak pria. Saat itu sepertinya ada yang perlahan dari bawah lengan suami ada tangan bergerak menuju payudara saya, sepertinya cowok itu berusaha menyentuh saya tapi membuat saya berpikir itu adalah tangan suami. Sebelum dia berhasil saya sudah sadar. Saya langsung marah menarik baju cowok itu. Sebelum dia sempat kabur, suami saya sudah mulai mecekek leher orang itu dan siap memukulnya. Suami teriak ke cowok itu “what about if I do it to your mom, huh?”
Saya menampar-nampar orang itu dan mencakarnya supaya lega saja, tak saya biarkan suami memukulnya menghindari kejadian lebih buruk. Orang-orang memarahi pria itu tapi kami juga ditenangkan oleh orang lokal. Selain saya, ada perempuan Australia yang mengalami hal yang sama digrayangi pria lokal sementara dia juga bersama suaminya. Percayalah pakaian saya tertutup dan menyesuaikan dengan standar lokal disana.
Banyak pula cerita teman-teman perempuan saya yang mengalami pelecehan seksual di India, baik ketika perjalanan sendiri, dengan pasangan atau beramai-ramai.
Jangankan perempuan, suami saya saja pipinya dicubit-cubitin sama cowok lokal.
Kita tau sendiri kasus gang rape banyak terjadi di India baik terhadap perempuan lokal atau turis asing. Sangat biadab!

Pergi ke Goa juga kami bertemu masalah lain. Hospitality sangat rendah dimana-mana, orang tidak peduli kamu puas atau tidak dengan pelayanan mereka. Budaya curiga seperti biasa terjadi dan semua orang dianggap wajar dicurigai. Kamu dikejar untuk bayar bayar bayar, beli beli beli, dengan trick ga habis-habis.
Tiap terminal rasanya tak pernah bebas dari gangguang supir bajaj yang memaksa, mengejar dan tanpa kenal menyerah, dan kalo kita membentak atau berkata kasar, mereka masih kokoh bertahan.

Belum pernah saya melihat orang amat sangat merasa bossy hanya karena memiliki jabatan apapun, di India terjadi banyak. Misal seseorang menjadi resepsionis, siapapun berhak diperiksa dan ditanya macam macam. Dan ketika kamu lebih punya (kaya) seolah bisa memperlakukan orang lain yang lebih rendah seenakmu saja. Terlalu biasa saya melihat kostumer restoran, hotel, swalayan yang berteriak atas kesalahan pekerja yang sifatnya sangat remeh. Kami mulai sick of it lagi. Saya jadi ingat sama halnya di Indonesia, kadang sebagain orang bisa menjadi sangat sombong pada orang lain jika orang itu punya jabatan sedikit saja. Baru punya jabatan di kantor lurah bisa mempersulit orang dengan hal hal bulshit contohnya. Begitulah yang terjadi persamaannya antara India dan Indonesia. Sedikit power digunakan untuk menginjak orang yang lebih lemah banyak terjadi.
Disini saya bercermin diri. Apakah saya pernah melakukan hal yang sama pula?
Kalo ya. Ini hal yang memalukan.

Pindah lagi ke Hampi, ada pemandangan lain kami lihat, ada banyak bangunan tua reruntuhan kerajaan mirip seperti Yunani Kuno. Di Rajashtan kami melihat kota pink, yang bagunannya semua berwarna pink. Indah sekali. Saya juga mengunjungi teman di kota Bangluru, bisa terlihat lebih modern, disebut sebagai “silicon valley” nya India. Dari cuaca yang panas di bagian selatan, sampai ke Delhi mulai mendingin, disini saya dapat Delhi Belly alias mencret 😭
Makin ke utara makin dingin, pertama kali di kota Shimla saya melihat snow flakes, hujan salju, kota ini mengingatkan pada film Three Idiots. Kotanya bagus dan lumayan bersih. Setelahnya adalah kota Manali. Ya salju tebal sekali disana, pertama kali saya merasakan romantisme salju adalah di kota Manali, India, bisa ski dan bikin boneka salju. Kami berkunjung pula ke Agra, Taj Mahal, disini adalah medan terberat setelah sebagian India kami lalui. Makin banyak tricks aneh aneh yang kami temui yang membuat kita makin lelah, lelah dan lelah. Beremosi tiada henti membuat kami stres dan banyak berkelahi selama perjalanan.
India begitu banyak warna, cerita, emosi, semua beraduk-aduk jadi satu. Pada umumnya orang India ramah dan sangat welcome. Tapi kita sebagai turis kadang terlalu sering berhadapan dengan supir bajaj, pegawai resepsionis yang kondisi pelayanannya kurang baik. Jika benar-benar berkenalan dengan orang awam yang kita jadikan teman maka kita bisa lihat kehangatan mereka.

Perjalanan kami selama 52 hari terasa bagaikan masalah kecil ada tiap hari tiada habis, menumpuk makin banyak sampai kami sudah tidak tahan lagi ingin pergi.

Saya sempat bertemu dengan turis ibu-ibu paruh baya dari Jakarta 5 orang di Rajashtan, mereka bilang, cukup sekali saja ke India, ga pernah akan mau lagi, yang penting udah tau.
Bagi saya mereka sangat hebat, 5 orang perempuan bisa bertahan di India dan mereka sudah paruh baya. Mereka saja sanggup.

In the end India is worth it to visit. At least once in yourlife time. Setidaknya kita bisa bersyukur tidak dilahirkan di India 😬dan banyak pelajaran dari sebuah traveling yang bisa didapatkan. Yin dan yang, buruk dan baik dari sebuah perjalanan itu pasti ada. Selayaknya hidup ini.
India mengajarkan saya banyak hal untuk merenungkan dan mengenal jati diri, tau tentang kepraktisan, belajar hidup ga mesti pakai ribet, berusaha rendah hati, mengungkapkan pendapat, bersyukur selalu, bekerja lebih giat dan hal-hal lainnya yang lebih kompleks.

Jangan karena tulisan ini niat ke India dibatalkan, don’t limit yourself! India budaya yang sangat unik yang perlu kita saksikan dengan mata kepala kita sendiri, langkahkan kakimu kesana bila ingin dan jangan ragu.

Oh ya saya lolos dari “ranjau darat” selama keseluruhan perjalanan di India, tapi di Hampi suami saya tanpa sengaja menginjak kotoran manusia. Saya tertawa kencang sekali dan merupakan peristiwa paling menghibur selama perjalan kami di India 😝

#BIIndia #BIIntenUtari

/* fb group poster start */ /* fb group poster end*/