Melihat Indonesia Dari Sisi yang Berbeda, Ikyu Bocah Lulusan SD Ini Keliling Indonesia Dengan Kapal Laut

Indonesia, nggak cuma Jakarta dan Pulau Jawa

Keliling Indonesia dan melihat keindahan Indonesia? Siapa yang nggak mau? Mungkin hampir setiap orang pasti mau kalau diajak keliling Indonesia. Tapi kalau kelilingnya naik kapal laut? Mugkin Kamu masih mikir dua kali. Tapi nggak ada salahnya Kamu mencoba pengalaman Ikyu keliling Indonesia menggunakan kapal laut.

Dari Sabang sampai Merauke, bocah berusia 11 tahun ini menghabiskan hari-hariya di atas kapal bersama kedua orang tuanya. Bukan sebuah perjalanan yang singkat lho! Butuh waktu berhari-hari untuk keliling Indonesia, apalagi dengan naik kapal laut.

Trip panjang ini merupakan hadiah kelulusan Ikyu dari orangtuanya

Hari ini aku lulus SD! Setelah menunggu 6 tahun, akhirnya hari yang kutunggu-tunggu ini datang juga. Senangnya! Sebagai hadiah graduation ibu dan bapak akan mengajak aku jalan-jalan yang jauh dan lama.
Kami akan pergi ke Sabang dan Merauke. Tadinya aku pikir mereka cuma bercanda, tapi ternyata mereka serius, sangat amat serius.
Pastinya aku senang sekali. Tapi, aku agak sedikit deg-degan juga, karena Bapak dan Ibu akan mengajak aku ke tempat yang jauh itu dengan naik kapal laut. Tante Nala tahu, kan, aku belum pernah naik kapal laut? Apalagi sampai berminggu-minggu lamanya.
Apa di atas kapal nanti aku nggak bosan ya? Seperti apa kira-kira kapalnya? Apakah besar dan bagus seperti kapal Titanic yang pernah kulihat dalam film? Ah, semoga bisa selamat dalam perjalanan nanti. Itu kan yang paling penting.
Tante Nala, pengetahuanku tentang Sabang dan Merauke juga masih sedikit, aku cuma tahu kedua tempat itu adanya di ujung barat dan timur Indonesia.
Aku tidak tahu apa yang menarik di sana. Kalau aku sudah datang ke sana nanti, pasti aku bisa tahu lebih banyak tentang tempat-tempat itu. Sepertinya bakal seru, jadi, ya kenapa tidak?
Ikyu

Mulanya Ikyu pun sempat tidak menyangka kalau dia akan pergi mengelilingi Indonesia dari Sabang sampai Merauke dengan naik kapal laut. Hal ini pun merupakan pengalaman baru bagi Ikyu. Dia mengaku kalau dia merasa senang dan merasa sedikit deg-degan.

Ikyu keliling Indonesia dengan naik kapal laut untuk melihat sudut pandang baru tentang Indonesia

“Kami melihat Indonesia bukan hanya dari Jakarta, kami memandang Indonesia bukan hanya dari Pulau Jawa,” tulis Iwan Esjepe, ayah Ikyu.

Kisah perjalanan Ikyu diceritakan oleh ayah Ikyu, Iwan Espeje dalam akun facebooknya lewat tulisannya yang berjudul “Jika Indonesia Tinggal Cerita”. Ayah Ikyu mengajak anak dan istrinya keliling Indonesia untuk melihat negeri ini dari sudut yang berbeda. Menurut dia, Indonesia, nggak cuma Jakarta dan Pulau Jawa. Bahwa sesungguhnya, Indonesia itu terbentang luas dari Sabang sampai Merauke.

Perjalanan mereka dimulai dari naik kapal KM KELUD dari Jakarta menuju Medan

Awal perjalanan seru dirasakan oleh Ikyu saat pertama kali menyusuri lautan dengan naik kapal KM KELUD. Ikyu merasa senang karena melihat laut yang luas membentang, melihat punggung Sumatera yang kokoh, melintasi selat Malaka yang ramai bersama dengan ratusan bahkan ribuan penumpang yang turun di Belawan, Medan.

Perjalanan Ikyu tidak berhenti di situ. Bocah ini masih melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bis malam. Perjalanan jauh membuat Ikyu kecapean dan sempat mabuk darat. Ternyata perjalanan pun tak semulus yang dibayangkan, bus yang mereka tumpangi pun mogok di tengah hutan.

Hal ini bisa jadi momen yang menyeramkan saat konflik antara GAM dan ABRI masih terjadi. Saat kondisi sudah aman, penumpang melaksanakan ibadah shalat sembari menunggu mesin diperbaiki. Shalat di Masjid Baiturrahman Aceh menjadi sebuah momen yang nggak bisa dilupakan oleh Ikyu dan kedua orangtuanya.

Perjalanan pun masih berlanjut menuju kota Sabang di Pulau Weh. Ternyata pulau yang berada di atas kiri peta punya keindahan yang luar biasa.

Cerita tentang Indonesia yang menjadi penyelamat perekonomian Negeri Belanda dari kebangkrutan

Sejarah telah mencatat bahwa Indonesia pernah menyelamatkan perekonomian Belanda melalui penjualan gula yang dihasilkan dari gula (tebu) di tanah Jawa. Saat Ikyu melanjutkan perjalanan dari Jakarta ke Surabaya menggunakan kereta api, terlihat perkebunan tebu yang subur di sekitar Karawang menuju Jawa Timur.

Ikyu pun melanjutkan perjalananya dari pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menggunakan KM KELIMUTU dengan kondisi kapal penumpang tua yang kondisinya memperihatinkan. Hal ini sangat disayangkan karena Indonesia yang akrab dengan negeri bahari ini nggak seharusnya kapal dengan kondisi seperti itu sudah nggak layak jalan.

Dari kapal KM KELIMUTU Ikyu pun disabut dengan hangatnya matahari saat melintasi kepulauan Sunda kecil, masuk wilayah NTB. Gagahnya gunung Tambora pun menyapa. Gunung yang pernah mengguncang dunia di bulan April, 1815.

Perjalanan berlanjut ke mengunjungi pelabuhan di Bima, Makassar, Bau-Bau, Wanci, Ambon, Banda, Saumlaki, Tual, Dobo, Agats, Timika dan berakhir di Merauke.

Selama berhari-hari Ikyu dan kedua orangtuanya punya banyak waktu untuk ngobrol dan berbagi cerita, hingga mendekati pulau Banda. Ayah Ikyu menceritakan tentang betapa mashurya kawasan itu di era 1800-an saat pala bermutu dari Banda masih menjadi komoditas mahal yang dicari dunia.

Sejarah pun mencatat bahwa pernah terjadi ‘tukar guling’ antara Inggris dan Belanda. Saat itu Inggris memberikan New Amsterdam yang sekarang menjadi New York dengan pulau kecil yang letaknya tak jauh dari Banda. Pulau itu bernama Pulau Rhun.

Melihat Indonesia memang tak cukup hanya dari peta, saat berada di Laut Aru sang Ayah menceritakan tentang Komodor Yos Sudarso

Salah satu pahlawan yang gugur di laut Aru dengan KRI Macan Tutul saat mendapatkan serangan bertubi-tubi dari kapal-kapal Belanda. Ikyu dan keluarganya pun mengarungi Laut Aru menuju ke Pelabuhan Agats, Asmat Papua.

Pengalaman memancing udang pun dialami Ikyu dan orangtuanya di Sungai Merauke. Sambil memegang tugu Kilometer Nol di Desa Sota, Merauke yang berbatasan dengan Papua New Guinea mereka hanya saling menatap dan tertawa. Dalam hati berdoa, agar keutuhan Sabang-Merauke bisa terus terjaga.

Ambon, Poso dan Sambas, sebuah catatan tersendiri.

Tiga daerah itu seolah menceritakan kisah getir yang nggak bisa dihindari. Perasaan sedih, getir dan pilu saat ingat tragedi pertumpahan darah. Indonesia adalah negeri yang amat besar yang harus ditetap dijaga dan bisa dikelola dengan niat besar untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

Saya ingin kelak Ikyu, anak serta cucunya masih bisa menikmati keutuhan sebuah negeri besar bernama Indonesia, yang rakyatnya hidup rukun, makmur dan sejahtera.

•••

Cerita inspirasi Ikyu bisa menjadi sebuah pelajaran buat Kamu agar bisa menjadi warga negara yang baik. Terus mencintai Indonesia dan menjaga keutuhannya. Karena Indonesia nggak hanya di Pulau Jawa atau Jakarta saja.

/* fb group poster start */ /* fb group poster end*/