Mencari Jejak Putri Mandalika di Kaliantan Lombok Timur

Hembusan angin fajar terasa dingin menusuk tulang, apalagi sejak sore hari yang sebelumnya hujan sudah tumpah ruah di pesisir pantai Kaliantan Desa Pemongkong Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Ini petanda alam, sang “Putri Mandalika” akan turun saat matahari baru menampakkan sinarnya.

Ribuan warga sejak sore sudah menunggu kemunculan “sang putri”. Kawasan pesisir pantai selatan Lombok Timur yang biasanya sepi ini, mendadak menjadi daerah yang tak pernah tidur. Jika tak tahan jaga, warga pun tak enggan untuk tidur di pasir putih pantai ini, hingga saat waktunya tiba, ketika ”sang putri” muncul ke permukaan. ”sang putri” yang dikenal dengan nyale (sejenis cacing laut) akan muncul saat sang fajar baru muncul di ufuk timur.

Tradisi Bau Nyale (Menangkap Nyale) begitu namanya, diadakan setahun sekali setiap tanggal 19 sampai 20 Rabiulawal atau antara bulan Februari dan Maret tiap Tahunnya. Menangkap nyale sebanyak-banyaknya adalah tujuan mereka berburu dengan menggunakan atau tanpa alat mulai di bibir pantai hingga 600 meter kearah laut lepas. Selain itu, konon nyale ini akan muncul jika warga mengucapkan kata-kata kotor.

Cacing laut atau nyale yang mereka tangkap biasanya di konsumsi langsung atau diolah menjadi berbagai jenis santapan dengan cita rasa yang khas, bisa juga dijadikan pupuk tanaman atau untuk kebutuhan dijual seharga Rp.25 ribu per mangkuk nya. Setelah selesai ditangkap, nyale ini harus segera diolah, terlalu lama disimpan di udara terbuka akan berubah menjadi cair.

Dalam mitos masyarakat Lombok cacing laut atau nyale diyakini sebagai jelmaan putri Mandalika yang menceburkan diri kelaut saat diperebutkan oleh 5 orang pangeran yang ingin mempersuntingnya. Sesaat setelah menceburkan dirinya ke laut, tiba-tiba muncul lah nyale ini. Masyarakat pun mengasumsikan nyale ini adalah penjelamaan sang putri Mandalika.

Foto & Teks : Ahmad Subaidi

/* fb group poster start */ /* fb group poster end*/