NEPAL TO INDIA VIA GATE DARAT, LANJUT KE VARANASI (KOTA SUCI UMAT HINDHU) DAN SARNATH (KOTA SUCI UMAT BUDHA).

Pertengahan bulan Mei 2016, setelah muter2 di situs tempat kelahiran Budha Taman Lumbini Nepal, saya terus mau lanjut ke India, via darat yg selanjutnya mau ke Varanasi / Benares dan Sarnath.

Pintu gerbang perbatasan Nepal ke India, dari Lumbini sekitar 13 km. Bisa naik bus kecil, langsung ke perbatasan, nama daerah / kotanya Bhaerawa.

Bhaerawa kota yg berdampingan langsung dgn kota Sonauli India.
Sy nggak bisa membedakan orang Nepal dan orang India, memang secara phisik dan budaya nyaris sama.

Sampai di perbatasan Bhaerawa Nepal, sy langsung nukar mata uang Nepal yg tersisa, utk ditukar dgn mata uang India. Kurs nilai uang rupee India lebih tinggi dikit dibanding rupee Nepal.

Selanjutnya saya ke perwakilan Kantor Imigrasi Nepal, utk lapor mau keluar Nepal. Petugas imigrasinya ramah, sopan.
Beda jauh sama petugas Imigrasi di India.

Setelah paspor di Cap, sy langsung menuju pintu gerbang perbatasan India.
Sebelum sampai di kantor Imigrasi India, ada pemeriksaan dokumen dan bawaan tas. Keril saya dibuka, dan ditanya bbrp pertanyaan.
Setelah dinyatakan clear, sy diijinkan langsung jalan ke wilayah kedaulatan India. Sy terus cari kantor Perwakilan Imigrasi India. Agak susah juga, sambil nanya2, nggak tahunya kantor Imigrasi nya tidak layak disebut kantor, kayak toko dan petugasnya tidak meng identitaskan klu dia petugas Imigrasi.

Sy terus masuk ruangan, utk ngisi formulir. Terus aku serahkan ke petugasnya. Salah satu petugas, dengan terang2 an minta duit 500 rupee, tidak banyak memang, klu di kurs kan sekitar Rp 100 rb.
Dua petugas lainnya, sy lihat kurang senang dengan perilaku temannya yg terang2 an minta duit itu.

Dari pada rebet, aku kasih saja. Tp dia tetus nganter saya ke stanplat mikrolet, ditunjukan mobil angkutan yg menuju stasiun kereta.
Idep2 ongkos utk nganter lah, pikir saya .. hehehe.

Setelah naik mikrolet sekitar 2 jam, sampai di stasiun kecil (lupa namanya). Terus sy naik kereta utk menuju Gorakhpur, yg memakan waktu sekitar 3 jam.

Sebetulnya dari Gorakhpur ke Varanasi bisa naik kereta malam, tapi yg ngantri beli tiket panjang banget. Terus aku putuskan menuju Varanasi (Benares), naik bus malam. Meskipun jaraknya sekitar 215 km, krn kondisi jalan jelek, maka 8 jam baru sampai Varanasi.

Sampai kota Varanasi jam 3 dini hari. Sy menunggu pagi, sambil tidur2 an di kursi stanplat bus.
Pagi harinya terus sy naik sejenis sepeda becak, menuju sungai Gangga.

Sungai Gangga merupakan kota suci bagi umat Hindhu. Bau asing tercium, mungkin sy kena sugesti, krn tempat itu sering dipakai upacara keagamaan. Jadi meskipun mungkin biasa2 saja, namun krn dipikiran sudah tertanam disitu tempat utk upacara keagamaan, yg konon katanya utk pembakaran mayat, jadi terasa ada rasa asing.

Sayank sy pas disana, tidak ada upacara keagamaan. Sy hanya melihat banyak orang mandi di sungai itu, meskipun airnya terlihat kotor tidak jernih.

Sy sempat mendekati orang mungkin pemuka agama Hindhu, klu dilihat dari pakaiannya. Sy sempat ngobrol dikit2 dgn bahasa Inggris. Dia menawarkan buku bertuliskan huruf India kuna. Krn sy nggak bisa baca, sy beli satu tp bukunya tdk saya ambil. Lha ora mudheng blas ..

Sy di sungai Gangga, sekitar 4 jam, terus mau melanjutkan ke kota Sarnath, kota suci bagi umat Budha, yg jaraknya sekitar 13 km.

Sy ke Sarnath sebetulnya pingin naik Bajai, krn lumayan jauh. Tapi ada penarik sepeda becak, yg meminta dengan sangat, agar saya naik becaknya, dgn alasan sudah bbrp hari tidak ada penumpang. Dia minta bayaran 600 rupee, dan akan mengantar ke situs2 sejarah di Sarnath. Dia dikit2 bisa ngomong bhs Inggris.

Betul juga, dia mengayuh sambil cerita2 situs yg dilalui.

Sarnath merupakan kota suci bagi umat Budha, krn di wilayah ini, utk pertama kali Budha mengajarkan ajaran2 nya, setelah mendapat pencerahan di Bodhgaya.
Masih ada lagi tempat suci lainnya, yaitu Taman Lumbini ( tempat lahir Budha ) dan Kusinagar ( tempat meninggalnya Budha ).

Sarnath sekarang sudah ramai, banyak berdiri vihara2 yg dibangun oleh bbrp negara, seperti Thailand, Komunitas Tibet, dll.

Klu dilingkungan Sarnath kuna, terdapat situs reruntuhan vihara kuna, dan yg masih lumayan terawat yaitu Dhamek Stupa yg tingginya 128 m, dgn diameter 93 m. Konon dibuat abad ke 2 SM, di era abad kehidupan Budha.
Sayank sy tidak bisa mendekat, krn dipagar.

Didekat Dhamek Stupa, ada vihara bangunan baru Mulagandhakuti namanya, yg didalamnya selain patung Budha, juga ada lukisan perjalanan Budha dari lahir sampai meninggal.

Disebelahnya lagi, ada pohon Bodhi yg konon dicangkok dari Bodhgaya. Dibawah pohon tsb, dibuat sejenis diorama berupa patung, yg menggambarkan Budha sedang mengajarkan ajarannya utk pertama kali, kepada lima muridnya.
Sy perhatiin pohon Bodhi tsb, klu dilihat dari jenis kulit dan daunnya, sy blm pernah lihat di Indonesia. Di Indonesia, katanya ada juga di Candi Borobudur atau Candi Mendut, tp saya kira juga cangkokan dari India.

Sy muter2 Sartnath sampai sore hari, selanjutnya saya ke stasiun kereta, yg malamnya lanjut ke kota Agra, dimana Taj Mahal berada.

Leren sik udut, capek nulis melulu .. hehehe … salam dari Manula Adventure Club.

/* fb group poster start */ /* fb group poster end*/