Saatnya kita bangkit..
Mari Optimalkan Peran

Kiriman *Prof. Dadang Kahmad.* Semoga bermanfaat. Tks.

Tepat seperti hari ini, 17 September 56 tahun lalu, ada seorang laki-laki mendapat gelar sebagai “shahid azan”. Dia adalah *Adnan Artekin Menderes,* Perdana Menteri Turki periode 1950-1960. Dia adalah seorang laki-laki yang menentang badai demi mengembalikan syiar Islam ke Turki modern.

*Menderes* lahir tahun 1899 di Turki, pada masa mudanya dia aktif berpolitik dan bergabung dengan partai Republican People’s Party (CHP), yang didirikan oleh Mustafa Kemal Attaturk, yang mengusung ide sekulerisme dan menguasai Turki modern pasca runtuhnya Dinasti Ottoman. Menderes aktif di partai itu dan pernah menjadi anggota parlemen dari partai CHP.

Pada tahun 1945, Menderes bersama 3 sahabatnya keluar dari partai CHP dan mendirikan partai baru bernama Democrat Party (DP). Disinilah Menderes mulai perjuangan barunya untuk mengembalikan Turki Modern ke jalan yang benar, setidaknya benar menurut keyakinan Menderes.

Menderes mulai melakukan persaingan dengan partai lain, terutama dengan CHP yang menguasai Turki. Menderes maju Pemilu dengan agenda kampanye yang cukup aneh, bahkan banyak pihak meragukan kalau Menderes akan mendapat suara.

Menderes mengusung visi dan misi partainya, ada 5 visi dan misi penting:

– Mengembalikan adzan ke dalam bahasa Arab.
– Mengijinkan orang Turki untuk melaksanakan ibadah haji.
– Mendirikan sekolah untuk mengajarkan bahasa Arab.
– Mencabut intervensi pemerintah atas pakaian wanita.
– Memberikan kebebasan kepada penganut agama untuk melaksanakan keyakinan masing-masing.

Dengan visi dan misi demikian, tidak muluk-muluk, pada tahun 1950 Menderes bersama partainya mengikuti Pemilu. Tidak ada yang menyangka, hasil pemilu menggoncang Turki, dimana partai Menderes mendapat 318 kursi di parlemen sedangkan partai CHP Attaturk hanya mendapat 32 kursi saja.

Menderes menjadi Perdana Menteri dan ketua partai CP Celal Bayar menjadi Presiden. Setelah Pemerintahan dibentuk, Menderes mulai merealisasikan janji-janjinya dalam kampanye. Adzan kembali dikumandangkan di menara-menara masjid dengan bahasa Arab dan rakyat Turki diperbolehkan melaksanakan ibadah haji, setelah bertahun-tahun mereka dilarang oleh pemerintahan Attaturk.

Tahun 1954 Menderes bertempur kembali dalam Pemilu, kali ini partainya menang telak dengan kursi yang lebih banyak dari tahun 1950. Menderes membangun sekolah-sekolah untuk mengajarkan bahasa Arab, merenovasi 10 ribu masjid di seluruh Turki, membuka lebih dari ribuan madrasah. Menderes memperbaiki kembali hubungan dengan negara-negara Arab, salah satu yang dilakukannya untuk itu adalah mengusir Duta Besar Israel dari Turki pada tahun 1956.

Perjuangan Menderes benar-benar membuahkan hasil. Hal tersebut tidak disukai oleh Barat dan Israel, yang telah berusaha menghancurkan Ottoman dan menjadikan Turki negara sekuler, tiba-tiba ada orang seperti Menderes. Berbagai konspirasi luar dan dalam mulai muncul, akhirnya konspirasi tersebut berhasil mencapai kesepakatan antara “luar” dengan militer Turki untuk mengkudeta pemerintahan PM Menderes.

Partai CHP melakukan berbagai kekacauan dan akhirnya pada Mei 1960 militer Turki yang dipimpin oleh Jend. Camal Gursel dan mengumumkan kudeta atas pemerintahan PM. Adnan Menderes. Partai Demokrasi Menderes dibekukan, Menderes ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung, dengan tuduhan mengembalikan adzan ke dalam bahasa Arab, berusaha menjadikan Turki Sekuler menjadi negara Islam dan berusaha untuk mengembalikan sistem Khilafah.

Pada 17 September 1961, PM Adnan Menderes dieksekusi di tiang gantungan dan menutup hidupnya dengan kata-kata yang sampai saat ini masih terngiang di telinga rakyat Turki… *_”Saya akan mati, dan saya berharap semoga rakyat dan negara ini selalu bahagia”._*

Seorang seperti Adnan Menderes “dikirim” hanya untuk misi mengembalikan adzan ke dalam bahasa asalnya yaitu bahasa Arab, itu saja. Hanya untuk misi yang terkesan “kere” begitu, Adnan berjuang puluhan tahun dan puncak perjuangannya berakhir di tiang gantungan. Itulah perjuangan, membutuhkan pengorbanan.

Sebagian orang mengorbankan jiwa dan raganya demi keyakinannya, ada juga sebagian yang lainnya mengorbankan keyakinannya demi harta, dan jabatan.

Sejarah selalu berulang, hanya pelakunya saja yang berbeda. Andalusia menjadi negara Muslim selama lebih dari 400 tahun, namun suatu hari Islam menjadi asing di sana. Turki pernah menjadi pusat khilafah Islam lebih dari 700 tahun, namun dalam beberapa saat saja berubah menjadi negara sekuler, bahkan adzan pun dilarang!

Saatnya berperan aktif untuk kebangkitan agama dan bangsa
#BelaIndonesia

/* fb group poster start */ /* fb group poster end*/